Entah bagaimana ia bisa menyimpan perasaan begitu lama, tak ku kira orang yang terdekat yang justru menyukaiku. Tanda-tanda kadang memang ada tapi seorang cewek lebih hebat dalam menyembunyikan perasaannya ketika ia menyukai sesorang. ...!!! Namun ketika orang yang ia tujuh tahu dan juga ternyata suka, cewek tersebut akan lebih terbuka heem...
Saya sebagai penulis yang notabene-nya seorang cowok, justru merasa kasihan pada cewek yang seperti ini, kenapa tidak diungkapkan saja meski dengan bahasa sindirian, ya paling tidak biar diketahui, cowok tersebut. Nah stelah diketahui, dari situlah kita lihat bagaimana kepastiannya, lanjut atau gak, klu lanjut yang syukur, kalau gak ya cari lagi yang lain. hehehehehehhe
Sabtu, 28 Desember 2013
Jumat, 27 Desember 2013
Singa Pekerja, Tetap Menjadi Raja Dimana Ia Ada
Rasa tidak nyaman dalam pekerjaan pasti ada, rasa tidak terima dengan hasil yang di kerjakan apalagi, lebih membosankan, kemudian ditambah dengan hasil kerja yang dinikmati oleh "bos", justru lebih menggerogoti hati.
Ya inilah resiko nasib seorang pekerja yang menjual tenaga dan pikirannya untuk perusahaan, Ya jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus dijalani meski beban berat harus ditanggung.
Masalah gaji yang selalu kurang pasti menjadi salah satu kendala untuk tidak terima, kemudian belum lagi jika persaingan antar sesama pekerja, saling cari muka didepan "Bos".
Ah, itu bukan tipe ku. Dalam kondisi seperti ini saya harus terus belajar dan berusaha untuk menyikapi semua dengan kedewasaan pikiran, tidak hanya peduli pada perasaan ketidakterimaan yang selalu menggerogoti. Bukan berarti lari dari masalah, tapi bagaimana kita berfikir lebih maju.
Masalah gaji memang jauh kita dengan para, pejabat diatas kita kususnya para pemilik perusahaan, masalah pekerjaan, porsinya pasti lebih banyak kita yang jadi bawahannya. Itu sudah hukum rimba kehidupan.
Namun, Singa tidak akan menjadi raja hutan jika ia tidak berada dirimba yang kejam. Singa akan menjadi babu dan binatang hiburan ketika berada disirkus dan penjara kebun binatang. Sama halnya kitika sesorang menjadi Singa dilingkungan sebelumnya, dan justru menjadi manusia hiasan untuk menghibur banyak orang.
Singa tetap akan menjadi buas dan raja di lingkungan mana pun ketika dia tetap menunjukkan taring dan karakternya sebagai raja rimba. Dan Singa tersebut juga bisa menaklukan lingkungan barunya dengan raungan dan karakter buas yang ia miliki, orang tidak akan mempermainkannya. Jika Singa tersebut berhasil mempertahankan karakternya dilingkungan baru tersebut, maka ia akan tetap menjadi raja di rimba baru yang modern.
Disinilah seorang pekerja yang hanya menjual tenaga dan pikirannya harus menjadi Singa di lingkungan barunya. Tetap mempertahankan karakter dan tujuan awal ia bekerja, tak peduli gaji masih pas-pasan, tak peduli cacian dan cibiran beberapa orang, yang penting mempertahankan karakter untuk terus berkarya, menunjukan taring -taring kreatif dalam pekerjaan diluar tugas yang sudah diemban.
Menyikapi persaingan sesama teman pekerja, menjadi persaudaraan, suatu saat saingan ini bisa jadi rekan untuk bekerjasama, dan tidak menuntut kemungkinan, "Bos" juga akan menjadi rekan kerja.
Jadi bagaimana keadaannya, sekarang tetap tunjukkan diri dalam bentuk karya-karya yang bisa dilakukan semampunya, dan pantang menyerah, sebelum tujuan tergapai. Dan pada titik tertentu akan ketemu sama "bos" jika mereka mau bekerjasama dengan karya yang kita punya.
Dan kelemahan seseoarang seperti saya adalah tergiur hal baru, satu belum selesai dengan hasil yang memuaskan sudah pindah pada bidang yang lain. Untuk sekarang tubuh yang hina ini harus tetap istiqomah untuk berkarya, berbagi informasi kepada semua, dengan niatan yang lebih mulia. "berbagi" tidak hanya sebuah karya yang menghasilkan keuntungan finansial, tapi juga persaudaraan yang menghasilkan persaudaraan, pendidikan kepada yang lain, untuk memberi jalan kebahagiaan.
Semangatlah Singa pekerja, Tunjukan taringmu pada saat yang tepat, jangan ceroboh dan tergesah-gesah, karena sang majikan bisa saja melumpuhkan mu dengan cara membiusmu dan memberikan kenyaman, pekerjaan dan fasilitas yang ada. Tetaplah diam Wahai singa pekerja, ketika waktunya sudah pas disitulah, tunjukkan taring garangmu.
Ya inilah resiko nasib seorang pekerja yang menjual tenaga dan pikirannya untuk perusahaan, Ya jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus dijalani meski beban berat harus ditanggung.
Masalah gaji yang selalu kurang pasti menjadi salah satu kendala untuk tidak terima, kemudian belum lagi jika persaingan antar sesama pekerja, saling cari muka didepan "Bos".
Ah, itu bukan tipe ku. Dalam kondisi seperti ini saya harus terus belajar dan berusaha untuk menyikapi semua dengan kedewasaan pikiran, tidak hanya peduli pada perasaan ketidakterimaan yang selalu menggerogoti. Bukan berarti lari dari masalah, tapi bagaimana kita berfikir lebih maju.
Masalah gaji memang jauh kita dengan para, pejabat diatas kita kususnya para pemilik perusahaan, masalah pekerjaan, porsinya pasti lebih banyak kita yang jadi bawahannya. Itu sudah hukum rimba kehidupan.
Namun, Singa tidak akan menjadi raja hutan jika ia tidak berada dirimba yang kejam. Singa akan menjadi babu dan binatang hiburan ketika berada disirkus dan penjara kebun binatang. Sama halnya kitika sesorang menjadi Singa dilingkungan sebelumnya, dan justru menjadi manusia hiasan untuk menghibur banyak orang.
Singa tetap akan menjadi buas dan raja di lingkungan mana pun ketika dia tetap menunjukkan taring dan karakternya sebagai raja rimba. Dan Singa tersebut juga bisa menaklukan lingkungan barunya dengan raungan dan karakter buas yang ia miliki, orang tidak akan mempermainkannya. Jika Singa tersebut berhasil mempertahankan karakternya dilingkungan baru tersebut, maka ia akan tetap menjadi raja di rimba baru yang modern.
Disinilah seorang pekerja yang hanya menjual tenaga dan pikirannya harus menjadi Singa di lingkungan barunya. Tetap mempertahankan karakter dan tujuan awal ia bekerja, tak peduli gaji masih pas-pasan, tak peduli cacian dan cibiran beberapa orang, yang penting mempertahankan karakter untuk terus berkarya, menunjukan taring -taring kreatif dalam pekerjaan diluar tugas yang sudah diemban.
Menyikapi persaingan sesama teman pekerja, menjadi persaudaraan, suatu saat saingan ini bisa jadi rekan untuk bekerjasama, dan tidak menuntut kemungkinan, "Bos" juga akan menjadi rekan kerja.
Jadi bagaimana keadaannya, sekarang tetap tunjukkan diri dalam bentuk karya-karya yang bisa dilakukan semampunya, dan pantang menyerah, sebelum tujuan tergapai. Dan pada titik tertentu akan ketemu sama "bos" jika mereka mau bekerjasama dengan karya yang kita punya.
Dan kelemahan seseoarang seperti saya adalah tergiur hal baru, satu belum selesai dengan hasil yang memuaskan sudah pindah pada bidang yang lain. Untuk sekarang tubuh yang hina ini harus tetap istiqomah untuk berkarya, berbagi informasi kepada semua, dengan niatan yang lebih mulia. "berbagi" tidak hanya sebuah karya yang menghasilkan keuntungan finansial, tapi juga persaudaraan yang menghasilkan persaudaraan, pendidikan kepada yang lain, untuk memberi jalan kebahagiaan.
Semangatlah Singa pekerja, Tunjukan taringmu pada saat yang tepat, jangan ceroboh dan tergesah-gesah, karena sang majikan bisa saja melumpuhkan mu dengan cara membiusmu dan memberikan kenyaman, pekerjaan dan fasilitas yang ada. Tetaplah diam Wahai singa pekerja, ketika waktunya sudah pas disitulah, tunjukkan taring garangmu.
Kamis, 26 Desember 2013
Membuat Lebih Suatu Kenangan atau Hancurkan Kenangan
Sebagia lelaki, seorang Daka memiliki ketertarikan pada seorang wanita yang ia harapkan menjadi penyempurna dalam beribadah. Meski dalam tingkah dan kesehariannya ia seperti orang yang sangat cuek dan tidak peduli akan paras wajah yang cantik, akan tubuh purposional yang mengundang nafsu birahi.
Ketika membincang seorang cewek dengan teman-temanya, Daka lebih memilih diam, dan senyum-senyum kecil. Entah apa yang membuat ia demikian, seakan enggan untuk berpacaran dan memilki teman lawan jenis.
Namun serang terungkap apa yang tersembunyi dalam perasaan dan hatinya, melalui obrolan malam dan berteman dua cangkir kopi dan sebungkus rokok, kami menikmati obrolan kemarin malam, di warung milik temen sendiri yang sudah memulai usahanya ini pada minggu kemarin.
Di meja pojok dekat pintu keluar, kami saling menuang cerita, bertopik pekerjaan. Namun pada titik tertentu ada perbincangan yang membuat Daka, bercerita apa yang selama ini membuatku penasaran, siapa sosok wanita spesial yang mampu membuatnya jatuh cinta?.
Berawal dari gaji dan kenyamanan kerja, Daka bercerita tentang gajinya. "Gaji pertamaku sudah jadi keong yang bisa kutunggangi setiap hari, meski gaji pertama belum cukup uang untuk membelinya tapi bermodal nekad untuk pinjam pada teman akhirnya terbeli juga, heheheh alhamdulillah" ungkapanya sambil senyum-senyum.
Aku pun hanya menganggukan kepala, dan membalas cerita yang sama. "Aku dulu juga demikian ingin memilki motor sendiri dengan hasil keringat sendiri harus menabung dikit demi sedikit dan akhrinya terbeli juga" ungkap ku singkat.
Kemudian ku tanyakan kepada Daka, "Mana siput manis mu ko' gak kamu bawah kemari?" tanya ku dengan tawa kecil.
Namun bukan balasan muka ceria yang ku dapat, justru raut kecewa yang keluar dari kerutan dahi dan pipinya, meski bibirnya tersenyum. " Hayo kemana siput kesayangan mu?" kejar tanya ku "katanya kemarin tidak mau dijual, tapi sekarang kok uda gak ada" imbuh ku, untuk membuka rahasia perasaan tersembunyi Daka.
Meski terlihat berat, akhirnya bibirnya berucap juga "Ah, kau memaksa ku, untuk curhat" ungkapnya, "hahahahha, gak papa biar ringan tu beban otak" ungkap ku biar ia bercerita.
"kemarin tak jual, bukanya terlalu butuh uang, karena ada keinginan untuk mendekati seseorang dengan keseriusan jadi tak jual, klu uang ku masih cukup untuk kebutuhan bulan ini," ungkapnya dengan nada malas.
"Bentar-bentar, dekatin seseorang maksudnya mau nembak cewek" sahutku dengan girang, dan tertawa kecil " hahahaha, kirain uda gak nafsu sama cewek, nafsunya sama cowok. Lanjut dulu ceritanya tar tak tanggapin," canda ku agar daka mau melanjutkan ceritanya.
"Iya kemarin aku ngerasa sempat dekat sama seseorang, tapi gak bakal tak tunjukin kamu siapa orangnya" ungkapnya dengan malu-malu. "hahahaha gak pa-pa gak disebutin tar juga tahu sendiri" sahut ku.
"Kita uda sering komunikasi, baik via sms, canting Fb dan WA, kadang juga telepon. dalam beberapa update status dan ungkapanya seakan orang yang dia maksud itu aku, namun ternyata bukan."
" waduh kasihan, hahahhaha" ungkapku dengan bercanda.
"Anjriit tunggu orang selesai cerita dulu baru tanggapin, dasar burung nyahut aja" tegur Daka pada ku.
" Ya ane dengerin deh pek tuntas dan ampek lu puas, hehehe" bercanda sekaligus untuk menghiburnya.
"Memang sebelumnya kita gak pernah bernubungan pasca ia uda lulus, namun entah kapan ia masuk dalam komen ku, tapi waktu pastinya kapan aq gak tahu. Nah mulai dari situ kita sering kontak-kontas komen-komen dan like status. Dalam beberapa statusnya juga kadang aku merasa itu bahwa yang ia maksud itu aku, tapi kadang juga bukan, kemarin ku coba untuk memastikan, ku tanyakan padanya ternyata ia sudah punya pacar, meski aku gak tahu siapa orangnya. Hati rasanya ndak karuan, padahal maksudku seumpama ia belum punya orang spesial atau pacar, mau ku tembak dia, meski bukan dengan ungkapan langsung (aku cinta kamu dsb) itu kan ungkapan anak jaman sekolah. Tapi bakal ku tanya dia apa mau tak belikan cincin tunangan meski perak?"
" widih suit banget kamu klu nembak cewek" sahut ku lagi. "Bentar belum selesai nich cerita dikit lagi"
"Nah dengan tujuan itu, kenapa si keong aku jual, ya paling tidak kalau mau serius dengan seseorang ada bukti seriusnya. Lagian itu juga motor kenangan, hasil gaji pertama, maunya ku buat kenangan yang lebih hebat lagi, tapi ya apa jadi...!!!" kemudian Daka sedikit terdiam "Udah, gini baru tanggepin" tutup Daka.
"Hehehe iya sory tadi kan terbawa arus certianya, Trus sekarang gimana?, galau?" tanyaku pada Daka.
"Ya gitulah, tapi masih biasa kok, gak terlalu dipikir tapi kepikiran. hahahhaha, tapi tar kalau jodoh kan juga dateng sendiri yang penting kan berusaha, masalah hasil, kan bukan kita yang menentukan" ungkapnya sambil menghibur diri.
"Bentar-bentar, berarti kan dia belum tahu kalau ente suka padanya, Dak?" tanyaku. "Belum" jawabnya polos.
"Ya jadi lelaki jangan pantang menyerah, masak belum tahu ditolak, gaknya uda nyerah, meski dia sudah punya cowok siapa tahu dia pilih ente, kan belum tentu. Baru kalau ente sudah mengunkapkan, dan dia bilang, saya menolakmu atau saya juga suka kamu itu baru jelas, kalau dia bilang saya sudah punya pacar, itu belum tentu dia gak suka sama ente. Yang punya suami saja bayak yang suka sama suami orang lain, apalagi yang cuma masih calon. Gak menuntut kemungkinan dia juga suka sama ente, seperti apa yang ente rasakan, sperti status-statusnya seperti yang ente ceritakan. hehehe sory jadi menggurui" celoteh ku untuk memberi semangat pada sahabat karib yang satu ini.
"Sory bukanya ane gak mau yang jelas-jelas seperti itu, tapi ya ini ane. Bukannya akan lebih jelas jika ane beliin cincin tanda jadi meski barang murah, daripada sekedar ungkapan cinta" sahutnya dengan penekanan intonasi sedikit maksa.
"Ya uda, sekarang gini saja, gimana dia tahu saja jika ente mau serius dengan simbol cincin tersebut, entah itu selanjutnya dia milih orang lain juga gak masalah, yang penting perasaan dan ungkapan ente sudah tersampaikan, dari pada perasaan gak kesampaian tar jadi jerawatan...!!!" Nasehat kecilku kembali menghujani kegalaun Daka.
Tetapi aku tahu bagaimana Daka, ia bukan orang yang mudah untuk melakukan hal seperti ini, akan ada berjuta pertimbangan di otaknya, mulai dari takut menyakiti perasaan orang, jika memang orang yang dia sukai memang sudah menyukai orang lain, ia takut melukai hubungan orang lain yang sudah saling mencintai, karena baginya menyakiti orang, jauh lebih besar dosanya dari pada melanggar perintah Tuhannya.
Sekian dulu ceritanya, ini sedikit tambahan informasi untuk memperkuat istilah dan karakter.
Daka: Pemuda sederhana, bisa juga hidupnya masih belum mampan, meski sudah punya pekerjaan.
Siput: Motor Vespa tahun Tua
Aku: Penulis
Ketika membincang seorang cewek dengan teman-temanya, Daka lebih memilih diam, dan senyum-senyum kecil. Entah apa yang membuat ia demikian, seakan enggan untuk berpacaran dan memilki teman lawan jenis.
Namun serang terungkap apa yang tersembunyi dalam perasaan dan hatinya, melalui obrolan malam dan berteman dua cangkir kopi dan sebungkus rokok, kami menikmati obrolan kemarin malam, di warung milik temen sendiri yang sudah memulai usahanya ini pada minggu kemarin.
Di meja pojok dekat pintu keluar, kami saling menuang cerita, bertopik pekerjaan. Namun pada titik tertentu ada perbincangan yang membuat Daka, bercerita apa yang selama ini membuatku penasaran, siapa sosok wanita spesial yang mampu membuatnya jatuh cinta?.
Berawal dari gaji dan kenyamanan kerja, Daka bercerita tentang gajinya. "Gaji pertamaku sudah jadi keong yang bisa kutunggangi setiap hari, meski gaji pertama belum cukup uang untuk membelinya tapi bermodal nekad untuk pinjam pada teman akhirnya terbeli juga, heheheh alhamdulillah" ungkapanya sambil senyum-senyum.
Aku pun hanya menganggukan kepala, dan membalas cerita yang sama. "Aku dulu juga demikian ingin memilki motor sendiri dengan hasil keringat sendiri harus menabung dikit demi sedikit dan akhrinya terbeli juga" ungkap ku singkat.
Kemudian ku tanyakan kepada Daka, "Mana siput manis mu ko' gak kamu bawah kemari?" tanya ku dengan tawa kecil.
Namun bukan balasan muka ceria yang ku dapat, justru raut kecewa yang keluar dari kerutan dahi dan pipinya, meski bibirnya tersenyum. " Hayo kemana siput kesayangan mu?" kejar tanya ku "katanya kemarin tidak mau dijual, tapi sekarang kok uda gak ada" imbuh ku, untuk membuka rahasia perasaan tersembunyi Daka.
Meski terlihat berat, akhirnya bibirnya berucap juga "Ah, kau memaksa ku, untuk curhat" ungkapnya, "hahahahha, gak papa biar ringan tu beban otak" ungkap ku biar ia bercerita.
"kemarin tak jual, bukanya terlalu butuh uang, karena ada keinginan untuk mendekati seseorang dengan keseriusan jadi tak jual, klu uang ku masih cukup untuk kebutuhan bulan ini," ungkapnya dengan nada malas.
"Bentar-bentar, dekatin seseorang maksudnya mau nembak cewek" sahutku dengan girang, dan tertawa kecil " hahahaha, kirain uda gak nafsu sama cewek, nafsunya sama cowok. Lanjut dulu ceritanya tar tak tanggapin," canda ku agar daka mau melanjutkan ceritanya.
"Iya kemarin aku ngerasa sempat dekat sama seseorang, tapi gak bakal tak tunjukin kamu siapa orangnya" ungkapnya dengan malu-malu. "hahahaha gak pa-pa gak disebutin tar juga tahu sendiri" sahut ku.
"Kita uda sering komunikasi, baik via sms, canting Fb dan WA, kadang juga telepon. dalam beberapa update status dan ungkapanya seakan orang yang dia maksud itu aku, namun ternyata bukan."
" waduh kasihan, hahahhaha" ungkapku dengan bercanda.
"Anjriit tunggu orang selesai cerita dulu baru tanggapin, dasar burung nyahut aja" tegur Daka pada ku.
" Ya ane dengerin deh pek tuntas dan ampek lu puas, hehehe" bercanda sekaligus untuk menghiburnya.
"Memang sebelumnya kita gak pernah bernubungan pasca ia uda lulus, namun entah kapan ia masuk dalam komen ku, tapi waktu pastinya kapan aq gak tahu. Nah mulai dari situ kita sering kontak-kontas komen-komen dan like status. Dalam beberapa statusnya juga kadang aku merasa itu bahwa yang ia maksud itu aku, tapi kadang juga bukan, kemarin ku coba untuk memastikan, ku tanyakan padanya ternyata ia sudah punya pacar, meski aku gak tahu siapa orangnya. Hati rasanya ndak karuan, padahal maksudku seumpama ia belum punya orang spesial atau pacar, mau ku tembak dia, meski bukan dengan ungkapan langsung (aku cinta kamu dsb) itu kan ungkapan anak jaman sekolah. Tapi bakal ku tanya dia apa mau tak belikan cincin tunangan meski perak?"
" widih suit banget kamu klu nembak cewek" sahut ku lagi. "Bentar belum selesai nich cerita dikit lagi"
"Nah dengan tujuan itu, kenapa si keong aku jual, ya paling tidak kalau mau serius dengan seseorang ada bukti seriusnya. Lagian itu juga motor kenangan, hasil gaji pertama, maunya ku buat kenangan yang lebih hebat lagi, tapi ya apa jadi...!!!" kemudian Daka sedikit terdiam "Udah, gini baru tanggepin" tutup Daka.
"Hehehe iya sory tadi kan terbawa arus certianya, Trus sekarang gimana?, galau?" tanyaku pada Daka.
"Ya gitulah, tapi masih biasa kok, gak terlalu dipikir tapi kepikiran. hahahhaha, tapi tar kalau jodoh kan juga dateng sendiri yang penting kan berusaha, masalah hasil, kan bukan kita yang menentukan" ungkapnya sambil menghibur diri.
"Bentar-bentar, berarti kan dia belum tahu kalau ente suka padanya, Dak?" tanyaku. "Belum" jawabnya polos.
"Ya jadi lelaki jangan pantang menyerah, masak belum tahu ditolak, gaknya uda nyerah, meski dia sudah punya cowok siapa tahu dia pilih ente, kan belum tentu. Baru kalau ente sudah mengunkapkan, dan dia bilang, saya menolakmu atau saya juga suka kamu itu baru jelas, kalau dia bilang saya sudah punya pacar, itu belum tentu dia gak suka sama ente. Yang punya suami saja bayak yang suka sama suami orang lain, apalagi yang cuma masih calon. Gak menuntut kemungkinan dia juga suka sama ente, seperti apa yang ente rasakan, sperti status-statusnya seperti yang ente ceritakan. hehehe sory jadi menggurui" celoteh ku untuk memberi semangat pada sahabat karib yang satu ini.
"Sory bukanya ane gak mau yang jelas-jelas seperti itu, tapi ya ini ane. Bukannya akan lebih jelas jika ane beliin cincin tanda jadi meski barang murah, daripada sekedar ungkapan cinta" sahutnya dengan penekanan intonasi sedikit maksa.
"Ya uda, sekarang gini saja, gimana dia tahu saja jika ente mau serius dengan simbol cincin tersebut, entah itu selanjutnya dia milih orang lain juga gak masalah, yang penting perasaan dan ungkapan ente sudah tersampaikan, dari pada perasaan gak kesampaian tar jadi jerawatan...!!!" Nasehat kecilku kembali menghujani kegalaun Daka.
Tetapi aku tahu bagaimana Daka, ia bukan orang yang mudah untuk melakukan hal seperti ini, akan ada berjuta pertimbangan di otaknya, mulai dari takut menyakiti perasaan orang, jika memang orang yang dia sukai memang sudah menyukai orang lain, ia takut melukai hubungan orang lain yang sudah saling mencintai, karena baginya menyakiti orang, jauh lebih besar dosanya dari pada melanggar perintah Tuhannya.
Sekian dulu ceritanya, ini sedikit tambahan informasi untuk memperkuat istilah dan karakter.
Daka: Pemuda sederhana, bisa juga hidupnya masih belum mampan, meski sudah punya pekerjaan.
Siput: Motor Vespa tahun Tua
Aku: Penulis
Kenyamanan Kerja
Lingkungan dan suasana kerja yang seperti ini memang sejak kuliah yang saya harapkan, pakai pakaian bebas, tak harus berbaju resmi dan seragam, kaos oblong celana sobek-sobek pun jadi asal pede untuk memakainya. Berangkat kerja juga tidak harus mandi cukup cuci muka dan sikat gigi, tanpa parfum pewangi atau pun minyak rambut. Terlambat pun wajar asal tidak keterlaluan.
Namun dari kebebasan itu, masih ada juga ketidaknyamanan dari faktor lain, salah satunya layar monitor yang terlalu terang dan jendela kaca yang langsung terkena sinar matahari, membuat mata perih. Namun ini hanyalah persoalan kecil, yang bisa diatasi dengan memasangkan kertas pada layar monitor.
Kenyamanan yang justru lebih sulit adalah orang-orang yang ada dalam lingkungan kerja itu sendiri. Sebagai ketidaknyaman dengan seseorang bisa membuat etos kerja menurun, suasana merasa sulit, jenuh, tidak enak untuk melakukan apa pun.
Hal ini, saya alami sekarang, setelah kantor pindah dan team semua juga pindah, ada hal berat yang sangat sulit untuk menyesuaikan diri dan mencapai kenyamanan kerja. "Suka pada cewek namun tidak sampai, dan kita ada dalam satu gedung yang sama". Untuk ceritnya sudah saya tulis kemarin, namun belum selesai, silakan baca disini.
Jadi kenyamanan hati justru memiliki pengaruh yang besar terhadap aktifitas sehari-hari. Meski pikiran sudah mengangap enjoy dan semua biasa saja, tapi hati tidak bisa dibohongi. "Saya belum nyaman berada disini" unkapan jujur dari hati yang paling dalam. Harapan memang ingin bekerja dengan nyaman dan menyenangkan. Dengan seorang tersebut pun tetap seperti biasa, saling sapa dan bercanda bersama, hahahahaha.
Tambahan sedikit, gaya kuncir rambut, pasti ketika melihat foto diatas, stail rambutnya apa juga bebas untuk berada dalam kantor?. Saya jawab bebas, dikantor sebelumnya juga demikian, sering saya kuncir pada bagian belakang, karena tidak pernah sisiran, maklum seorang cowok yang malas untuk terlihat cakep hehehe.
Ok, sekian dulu untuk status saya hari ini, semoga esok, ketika sudah mulai tumbuh kenyamanan, dari curhatan saya kali ini.
Rabu, 25 Desember 2013
Gelisah Hari Ini
Maaf sebenarnya hamba masih sangat penasaran dengan orang yang ada maksud, saya takut jika orang tersebut adalah hamba, sedangkan enkau dan aku sama tak berani untuk memberitahukan, masing-masing isi hati dan ungkapan perasaan.
Beberapa isyarat tersebut, dan berapa tanda tanya tersebut masih juga belum bisa hamba yakini kebenarannya. jika memang ya, maka saya harus menghindar, biar tidak ada hati yang tersakiti.
Meski sebenarnya ada sesak dan gelisah untuk hamba tapi itu yang harus hamba terima, karena kesukaan bukan tuntutan, karena perasaan bukan pemaksaan. Meski sudah ada niatan jika belum berkesampatan maka tidak akan kesampaian.
25/12/13
Beberapa isyarat tersebut, dan berapa tanda tanya tersebut masih juga belum bisa hamba yakini kebenarannya. jika memang ya, maka saya harus menghindar, biar tidak ada hati yang tersakiti.
Meski sebenarnya ada sesak dan gelisah untuk hamba tapi itu yang harus hamba terima, karena kesukaan bukan tuntutan, karena perasaan bukan pemaksaan. Meski sudah ada niatan jika belum berkesampatan maka tidak akan kesampaian.
25/12/13
Hamba yang Salah
Semoga kemalasan ini tidak semakin mendarah daging dan merasuk dalam tulang, meski hamba tahu jika itu salah. Tapi kenapa juga masih terus dan sulit untuk meninggalkan penyakit yang satu ini, "kemalasan".
Hamba juga tahu kenapa kemalasan ini muncul, hamba juga mengerti cara untuk mengilangkannya tapi tetap demikian. Hamba tidak akan menyalahkan takdir, jika menyalahkan takdir sama halnya dengan menyalahkan Tuhan, karena takdir adalah ciptaan-Nya.
Kemudian jika hamba juga menyalakan diri sendiri, salam halnya, hamba menyalahkan yang menciptakan diri ini.
Sengguh hampa dan kosong akan semua isi, akan semua ketidakberdayaan mengalahkan kemalasan. Jika memang kemalasan dari setan, maka hamba juga tidak berani menyalahkannya, karena sama-sama makluk dan juga sama-sama ciptaan-Nya.
Dan yang paling bisa disalahkan adalah diri sendiri...!!!
Hamba juga tahu kenapa kemalasan ini muncul, hamba juga mengerti cara untuk mengilangkannya tapi tetap demikian. Hamba tidak akan menyalahkan takdir, jika menyalahkan takdir sama halnya dengan menyalahkan Tuhan, karena takdir adalah ciptaan-Nya.
Kemudian jika hamba juga menyalakan diri sendiri, salam halnya, hamba menyalahkan yang menciptakan diri ini.
Sengguh hampa dan kosong akan semua isi, akan semua ketidakberdayaan mengalahkan kemalasan. Jika memang kemalasan dari setan, maka hamba juga tidak berani menyalahkannya, karena sama-sama makluk dan juga sama-sama ciptaan-Nya.
Dan yang paling bisa disalahkan adalah diri sendiri...!!!
Selasa, 24 Desember 2013
Daka, Rasa dalam Isyarat
Beberapa hari sebelumnya, Daka memang ada maksud hati untuk mengungkap apa yang dia rasakan selama ini, namun karena adanya kepentingan yang tak terduga sehingga tak tersampaikan. Niatan mencari ketenagan hati tapi tak sampai, namun ada suatu isyarat yang menuntut untuk terus bertahan dan terus berjuang sampai semua maksud tersampaikan, hanya itu saja...!!!
Hati kecilnya berbisik, "Tapi etikad baik, belum tentu baik bagi orang yang kita tuju. Kadang kebaikan bagi kita justru menyakitkan bagi yang lain, jadi perlu adanya suatu garis keselarasan antara keduanya jika memang ingin mencari bahagia". Daka selalu mengdengarkan kata hatinya ketika suatu yang ingin ia gapai belum tersentuh keberhasilan.
Kepastian yang Daka harapkan menjadi ketenangan tersebut justru menjadi gelisah tersendiri, namun dalam dirinya "pikiran tetap harus menghibur hati yang gelisah, tubuh pun mendukung perintah logika untuk tetap berusaha". Baginya pikiran tak punya kegelisahan, pikiran hanya punya lelah, hati yang menyimpan gelisah.
Ya, sebuah kepastian untuk isyarat-isyarat yang selama ini sudah tertuang dalam kata dan tingkah. Tanda-tanda yang seakan bahwa "aku memang ada untuknya", dan demi sebuah kata bahagia, ketenangan hati, semangat tersendiri, juga tanda harapan akan keberadaan untuk bersama menuju jalan ibadah yang sempurna.
"Ah, semua masih tanda dan isyarat, bulum ada ungkapan kepastian, sekali lagi hanya tanda". Kesimpulan Daka atas semua hubungan tidak langsung yang ia lakukan.
Hari itu ternyata Daka mendapat kesempatan untuk menemukan jawaban atas semua isyarat tersebut. Ia coba untuk menghubungi, dengan obrolan seperti biasanya. Tanpa ungkapan atau pertanyaan yang mempertanyakan kepastian tersebut, jawaban pun terungkap dalam beberapa kalimat isyarat pula.
Setalah obrolan yang penuh canda, justru ia merasa ada yang berbeda. "Ya, rasanya memang ada yang pergi padahal belum pernah kita miliki, rasanya ada yang hilang padahal belum datang"
Itu hanya sebuah rasa, itu hanya isyarat pula, atas kedaan.
Dalam diam hamba tersadar, usaha pasti ada gagalnya, tak semua keberhasilan diperoleh sempurna, tak semua yang kita harapkan akan terwujudkan, yang paling jelas dan pasti adalah proses dalam usaha tersebut, namun hasil belum bisa kita pastikan.
********______********
Sosial media hanyalah tepat untuk menaruh isyarat, tanda dan do'a, namun kenyataan tetaplah harus kita buktikan sendiri dengan tingkah.
"Yups, rasa bahagia, senyum-senyum sendiri, merasa ada yang memperhatikan, menemukan semangat dari seseorang". Semua memang sering dialami, Daka ketika ia bermain sosial media.
Daka sendiri memang orang yang cukup aktif di facebook, bisa dibilang hampir 24 jam akunya terus hidup meski orangnya sedang tidur. Facebookers yang satu ini seakan menaruh kehidupan nyatanya dalam maya, pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya pun dari dunia maya, hiburan dan curhatanya pun dalam tertuang dalam deretan statusnya, samar do'a-do'a pun tersisip. Mengelola banyak group dan fanspage untuk berbagi informasi dan mempermudah menyelesaikanya dalam tanggung jawab pada perusahaan.
Tak terkadang Daka punya kedekatan pada seseorang yang ada dijejaring sosial tersebut. Sebuah akun yang membut dirinya merasa berbeda, merasa jadi orang spesial, namun sekali lagi Daka memahaminya itu adalah bahasa isyarat yang tertuang dan butuh banyak penafsiran serta masih sangat butuh untuk dipastikan.
Padahal sebagai seorang facebookers, Daka pun sempat mengalami tiga kali salah memahami bahasa isyarat tersebut.
masih banyak yang kurang untuk dituangkan...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
