Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Cewek yang Samar

Bukan hal aneh ketika seorang cowok ditolak cewek meski kelihatanya suka, tapi pas di tembak ditolak halus kadang kasar. Namun cowok yang disukai cewek juga sering meninggalkan cewek begitu saja.

----***----

Tiga kali ditolak cewek secara jelas, dua kali tidak jelas, dua kali
meninggalkan cewek secara jelas dan entah berapa kali Daka cuek
terhadap cewek yang dia ketahui suka padanya.

Ya inilah perjalan cinta seorang cowok yang biasa dibilang memiliki
paras lumayan tampan. Namun justru ketampanan itu yang membuat dirinya belum menemukan lawan jenis yang spesial untuk menjadi penyempurna ibadahnya.

Memang dimasa masih mengejar sarjana ia punya komitmen untuk tidak memiliki teman cewek yang spesial. Namun pernah ia pungkiri kominmennya tersebut, dengan menjalin hubungan dengan seseorang dikampung halamannya yang berujung putus juga.

Namun hari ini tanggal 04/01/14, tepat ketiga kalinya ia ditolak cewek yang dia sukai. Gimana perasaan dan pikirannya?, inilah hebatnya Daka, meski jelas ditolak ia tetap penuh senyum dan juga tawa bareng temen-temenya. 

Apa memang karena ia masih merasa parasnya tampan sehingga merasa mudah untuk mendapat cewek yang lainnya.

Ataukah ada hal lain yang ia sembunyikan!, belum bisa langsung kita pastikan hal tersebut. Namun yang jelas ia tetap nyantai, seperti
tiada kecewa sedikitpun, layaknya air yang habis disentuh permukaanya kembali datar lagi.

Memang ia masih terjaga dengan prinsipnya, "kita hanya bisa tahu
proses dalam berusaha, dalam hasil kita masihlah buta," inilah yang
pernah terbisik dan menggurita dalam hatinya.

Bagaimana pun ia kan tetap berusaha dan terus berusaha, untuk sebuah hasil hubungan cinta ia tak peduli, seakan ia memang sudah mati rasa.

Namun dalam mati rasa baginya bukanlah tidak mau berusaha lagi, atau tidak mau untuk mendekati lawan jenis lagi. Tapi baginya mati rasa nadalah tidak kecewa dalam menerima ke gagalan. Itulah mati rasa yang sebenarnya bukan sekedar lari dari rasa kecewa.

Jumat, 03 Januari 2014

Kursi Peralihan Tahun 2013-2014


Ah seramai apa pun suasana kota Malang dengan semua kemacetan jalan dan meriah pesta tahun baru menyambut 2014, suasana hati akan tetap sepi menyimpan gelisah.

----***----

Daka, seorang mantan aktifis kampus yang waktu mahasiswanya banyak teman, tak pernah ia merasa sepi meski sebatangkara hidup di kota rantau mengejar sarjana. Namun suasana itu berbanding terbalik dalam kehidupanya sekarang, setelah satu tahun ia dapatkan selembar kertas lebel tersebut.

Ia sekarang masih tinggal di kota rantau dengan segala kesibukan bekerja sebagai seorang awak media otomotif online. Meski gajinya tidak terlalu besar tapi itu merupakan keberuntungan tersendiri baginya.

Meski pun demikian, dalam perkerjaan ini ia menyimpan banyak kekecewaan lantaran ijazahnya belum berguna. Lebel dari kampus jauh dari bidang yang ia geluti sekarang, selembar kertas itu sekarang hanya bisa menjadi hiasan pengabnya almari.

Dengan pekerjaan dan kesibukan baru, menjadi dunia baru bagi Daka. Kehidupan aktifis yang penuh dengan pertentangan tapi banyak persaudaraan ia tinggalkan. Perjalanan yang penuh dengan nilai kritis dan kesederhanaan hidup, diselah-selah suara lantang ketidakterimaan yang menjadikan kedewasaan berkehidupan. 

Kini semua tinggal kenangan, semua tinggalah catatan dalam memori kenangan, sepi dan sendiri.

Beruntung pikirannya masih sadar menerawang keadaan hatinya yang penuh gelisah, berjalan bersama tubuh yang semakin termakan usia, pikirannya mengenang masa-masa yang penuh harapan dalam perlawanan, penuh semangat dalam perlawanan yang penuh keyakinan. 

"Dulu kita sering meneriakan kebobrokan negeri, busuknya tingkah oknum pemerintah" kenang pikiran pada tubuh yang bersandar di pojok tembok. 

"Ya itu masa mahasiswa, masa penuh dengan diskusi dan konsolidasi, masa membawa bendera didepan barisan ribuan orang menuntut hak kemerdekaaan" sahut tubuh mengenang itu semua.

"Ah itu kan dulu," ungkap hati, ditengah perbincangan pikiran dan tubuh.

"Sudalah, semua itu tinggal kenangan, lihatlah kondisi kita sekarang, meski masih ada kalian tapi aku disini masih merasa sendiri, aku tak mampu mengatur diriku sendiri, masih kalian sibukkan dengan segala yang kalian lakukan" tegur Hati, sekaligus menasehati Pikiran dan Tubuh.

"Jangan kau, seperti itu, kita mengenang semua karena hari ini akhir tahun 2013, patutlah kita mengevaluasi semua yang pernah kita lalukan, meski tujuan masih jauh diangan. Lawan kita adalah sistem dan dalam satuan kita sendiri" sahut pikiran, mencoba untuk memebuka, si Hati agar mau membincang lebih jauh tentang forum akhir tahun.

"Benar itu, aku setuju apa yang dikatakan pikiran barusan, aku selalu siap dengan keterbatasan ku untuk mendukung kalian, sesekali aku cuma butuh istirahat yang cukup, agar aku bisa tetap mendukung kalian," ungkap tubuh sekaligus curhatanya.

Ketika sudah saling mengungkapkan, sejenak mereka terdiam, saling berfikir keadaan masing-masing yang telah terlewati dan apa yang akan dilakukan.

"Ok jika memang ini menjadi forum kita malam ini, mari kita tentukan dulu satu persatu apa yang akan kita bahas," ungkap Hati memecah keheningan diam.

"Seip, kita selesaikan saja curhatan masing-masing, baru kita berbincang rencana mendatang," sahut pikiran dengan wajah bijaksana, yang sebelumnya penuh dengan muram.

"Setuju, siapa yang mau duluan" timpal tubuh sambil menggapai cangkir kopi hitam yang dari tadi di cuekin.

Melihat semua dengan kesepakatan tersebut Hati hanya bisa menengahi dan meluruskan, meski awalnya ia lebih diam dan cuek lebih pada memikirkan kenyamanannya sendiri. "Baiklah tadi, sebagian kan sudah mencurahkan curhatannya, sekarang kalau mau menambahi juga tidak apa dan nanti kalau semua sudah selesai curhatanya mari kita berdiskusi apa yang akan kita lakukan di tahun depan" uangkap si Hati.

"Pikiran, dari tadi tak begitu terdengar curhatan mu!" tambah Hati sambil bertanya pada pikiran.

"Aku si gak banyak keluhan, cuma kadang aku jenuh melihat kalian yang demikian, aku juga bisa lelah jika diajak beraktifitas seharian penuh, jujur aku pengen refresing melihat pemandangan hijauh, entah itu pegunungan kesejukan hutan, atau biru pantai dengan desir ombaknya. Aku gak suka jika liburan, penuh dengan keramaian manusia dan kebisingan perkataan dan tingkah mereka" curhat pikiran. 

"Ya sekarang, masih ada lagi gak?, yang mau curhat atas kekesalan di tahun 2013 sebelum kita lanjut ke topik selanjutnya" pungkas Hati.

Secara tidak langsung ia menjadi penengah layaknya pimpinan sidang. 

"Ok kalau tidak ada yang mau curhat lagi, kita lanjut ke pembahasan selanjutnya!, kesimpulan tetap pada diri masing-masing" tambahnya.

"Ya uda lanjut saja, tahun sudah berganti nich", sahut Tubuh yang terlihat mulai lelah. 

"Makan dan minum dulu, biar kau semangat lagi," sahut Pikiran dengan sedikit mengejek Tubuh.

"Apanya yang dimaka!, ini yang ada hanya secangkir kopi hitam" timpal tubuh. 

"Sudah-sudah, kita lanjut saja pembahasannya biar cepet selesai," celetuk Hati. 

Setelah mencurahkan keluh masing-telihat wajah ceria kepuasan diantara mereka. 

"Aku muali dulu, aku tidak banyak harapan, aku cuma ingin lebih bisa bertahan dalam menanggapi semuanya, tak mudah aku jenuh, dan tak mudah aku mengeluh pada kalian serta aku ingin berikan semangat untuk kalian. sementara aku belum punya targetan," sahut pikiran untuk memulai perbincangan harapan ditahun 2014 ini.

"Kalau saya, cuma ingin lebih tenang, tak mudah terombang-ambing keinginan. Saya ingin menyelesaikan sisa-sisa di 2013 yang lalu, agar ada hasil yang diharapkan. Paling tidak ada bentuk kongkrit sebuah karya dan sebuah penghasilan, meskipun kecil" ungkap Hati, menyambut perkataan pikiran sekaligus mengungkapkan harapanya di 2014.

"Sekarang tinggal kau, Tubuh," tambah Hati.

"Emh, kalau hamba si ngikut dan dukung saja apa yang kalian, harapkan dan targetkan. Tapi harus ada bentuk kongkritny, bentuk karya yang seperti apa, target finansial berapa, meski itu sebuah proses, dan hasilnya belum kita ketahui" jawab tubuh sekaligus penjelsan harapan pada forum ini. 

"Sudah ada yang lain kalau gak, saya simpulkan," sahut Hati.

Semua terdiam, arah pupil mata pada ketengah, layaknya orang-orang yang konsentrasi berfikir. Forum mereka tinggalah sebuah kempulan bersama yang menjadi progaram untuk dilakukan di tahun 2014.

"Dari pada kelamaan, saya simpulkan tar jika ada yang kurang silakan ditambahi" Hati berucap memecah hening pembicaraan.

"Lanjutka" sahut pikiran.

"Ok, target pertama, hasilkan karya yang bisa dibukuhkan, karena ini merupakan hutang lama kita yang belum terealisasi, target sebelum menjadi sarjana dan sebelum wisuda, yang kadas karena banyaknya kesibukan tidak jelas dan tak terkontrol. Lagi pula karena ada musibah file yang hilan dan rusak.
Kedua kita maksimalisasi web yang ada untuk menghasilkan uang tambahan, sudah ini dulu dari saya" tutup kesimpulan dalam pendapat Hati.

"Ok sepakat, aku cuma menambahkan saran saja" sahut Pikiran.

"Untuk Hati, ku harap dikau juga lebih tenang dan sabar menanggapi semua persoalan yang kita hadapi dalam proses program kita, kalu bisa dikau lebih banyak berdo'a dan mendekatkan kita pada sang pencipta semesta dan penggerak isinya termasuk kita. Sedangkan untukmu Tubuh, lebih banyak dikau rawat dirimu, sering-sering kau mandi dan makan yang agak teratur, meski parasmu lumayan jangan sombong diri untuk tidak merawat diri, paling tidak kau jaga kesehatan. Terakhir untuk aku sendiri, aku sendiri jangan sampai tergoda dengan keinginan baru sebelum semua selesai dan menghasilkan," ungkapan saran dari pikiran.

"Seip, hamba hanya bisa dukung semaksimal mungkin dan terimakasih atas sarannya" tutup pembicaraan tubuh.

Forum dalam lelaki sepi seorang Daka telah selesai. Seri wajahnya mulai terlihat. Sambil ia beranjak dari tempat duduknya, ia menatap 2014 meninggalkan tempat duduknya 2013. 

Nb: Waktu nulis lagi bercengkrama dengan teman-teman yang mabuk pas malam tahun baruan.
Penulis: Cairudin

Anak Sampah, Bersihkan Negara


Meski terlihat kejam, tapi aku paham inilah pendidikan dan kenyataan yang ayah ajarkan, biar aku tidak salah untuk menjadi manusia.

-----*****-----


Sebelum subuh ayahnya pun sudah membangunkan tubuh mungil Ahan,  bergegas ia mencuci muka dengan mengambil air wudhu kemudian sholat subuh berjamaah. Setelahnya ia harus  menarik gerobak sampah, satu-satunya tumpuhan hidup keluarga.

Inilah keseharian yang dilakukan Ahan, meski usianya masih anak sekolah dasar tapi ia harus menarik gerobak sampah untuk membersihkan kotoran dari lingkungan kompleksnya.

Ayahnya berada dibelakang sambil mendorong gerobak yang ia tarik, setiap kali harus berhenti disetiap depan rumah untuk mengambil sampah rumah tangga tersebut. Ketika gerobak masih jalan sebentar tidak terlalu berat, tapi ketika sudah satu gang keliling, beban berat tarikan semakin bertambah seiring tumpukan demi tumpukan terus menggunung dalam gerobak.

Tenaga yang kami keluarkan pun semakin besar, butiran keringat dikening Ahan dan ayahnya mulai bercucuran.

"Yah, kayaknya sudah hampir penuh lambung gerobak, pundakku sudah terasa semakin ditekan" sedikit curhatan Ahan keluar dari mulut mungil tubuh yang berusaha roda gerobak tetap melaju.

"Bentar lagi juga sudah habis, entar kalau ditanjakkan Ayah yang narik, ganti kamu yang dorong," secuil semangat dari tubuh yang semakin termakan usia.

"Tapi semakin hari kayaknya warga semakin banyak saja sampah yang mereka buang, bulan kemarin kayaknya tidak seberat ini!" Gerutu Ahan.

"Ya, itu sudah wajar, manusianya juga semakin banyak, jadi sampah yang dibuang juga banyak, kalau sampahnya banyak nanti penghasilan tambahan kita juga akan nambah dari botol plastik dan kertas-kertas yang bisa kita jual," kata-kata motivasi ayahya keluar lagi, mananggapi gerutu Ahan.

"Menjadi tukang pungut sampah itu pekerjaan mulia, Han," tegur Ayahnya, untuk tepis gerutu anaknya.

"Mulia dari mananya, pekerjaan kotor dan bau seperti ini, ayah kok bilang mulia. Bukannya pekerjaan mulia dab bersih itu, pekerjaan para penceramah yang dengan baju bersih, dan kata-katanya bisa berarti bagi orang lain" sahut Ahan, sebelum ayahnya selesai menjelaskan.

"Aku pun sering dikatain temen-temen, anak sampah, dari mana bisa mulia," imbuh anak yang masih usia sekolah dasar, 11 tahun ini.

"Ayah bilang mulia karena, membersihkan sampah termasuk membersihkan hati, juga termasuk kita mencintai kebersihan. Bukan kah kebersiahan sebagian dari iman, itu kalau kau di ajar disekolah" ungkap ayahnya dengan kalem sambil, tangannya mengangkut tong sampah untuk dimasukan dalam gerobak.

"Dengan pekerjaan ini, kita juga mengurangi gerutu masyarakat dari kotoran sampah. Ketika sampah tidak kita bersihkan dan menimbulkan bau tidak sedap, warga pastinya akan menggerutu. Selain itu bisa jadi bibit penyakit. Melalui apa yang kita lakukan sekarang, kita juga ikut menjaga warga dari terserang penyakit, dan warga juga tetep terjaga dari maksiat untuk mencaci orang lain" tutur sang Ayah.

"Sebab itu ayah mencintai pekerjaan ini?" Tanya Ahan, sambil menatap muka lesu ayahnya dan kedua tangannya membatu untuk menaikan tongsampah untuk di tuang dalam gerobak.

"Ya, bukan hanya mencintai tapi ini juga sebagi bentuk pengabdian ayah pada negeri ini. Meski hanya dengan membersihkan sampah dilingkungan kompleks, setidaknya itu yang bisa ayah banggakan dinegeri yang kotor penuh tikus pejabatnya. Banyaknya tikus itu karena banyaknya sampah persoalan yang menumpuk dan tidak segera dibuang, sehingga para tikus justru menjadikan tong sampah rumah yang nyaman baginya. Kalau tong sampahnya bersih tikus tidak nyaman berada disitu, karena tidak ada sisan sisa makanan yang bisa mereka ambil. sama halnya yang ada di negara kita persoalan dan musibah justru menjadi tempat yang nyaman para tikus pemerintah. Sekarang kamu mungkin belum paham nak!, kelak dirimu akan mengerti apa yang ayah ucapkan hari ini"

Nasehat pajang sang ayah yang samar-samar dan cukup sukar untuk dipahami Ahan.

"Ya uda yah, kita selesaikan pekerjaan ini dan segera kita beristirahat" sahut Ahan, yang tidak begitu paham yang ayahnya ungkapkan.

Mereka pun melanjutkan pekerjaanya, sampai dijalan menanjak ayahnya menggantikan Ahan untuk menarik gerobak dan Ahan ganti yang mendorong..........

Nb: inspirasi dari tetangga kontrakan

Penulis: Cairudin

Kamis, 26 Desember 2013

Membuat Lebih Suatu Kenangan atau Hancurkan Kenangan

Sebagia lelaki, seorang Daka memiliki ketertarikan pada seorang wanita yang ia harapkan menjadi penyempurna dalam beribadah. Meski dalam tingkah dan kesehariannya ia seperti orang yang sangat cuek dan tidak peduli akan paras wajah yang cantik, akan tubuh purposional yang mengundang nafsu birahi.

Ketika membincang seorang cewek dengan teman-temanya, Daka lebih memilih diam, dan senyum-senyum kecil. Entah apa yang membuat ia demikian, seakan enggan untuk berpacaran dan memilki teman lawan jenis.

Namun serang terungkap apa yang tersembunyi dalam perasaan dan hatinya, melalui obrolan malam dan berteman dua cangkir kopi dan sebungkus rokok, kami menikmati obrolan kemarin malam,  di warung milik temen sendiri yang sudah memulai usahanya ini pada minggu kemarin.

Di meja pojok dekat pintu keluar, kami saling menuang cerita, bertopik pekerjaan. Namun pada titik tertentu ada perbincangan yang membuat Daka, bercerita apa yang selama ini membuatku penasaran, siapa sosok wanita spesial yang mampu membuatnya jatuh cinta?.


Berawal dari gaji dan kenyamanan kerja, Daka bercerita tentang gajinya. "Gaji pertamaku sudah jadi keong yang bisa kutunggangi setiap hari, meski gaji pertama belum cukup uang untuk membelinya tapi bermodal nekad untuk pinjam pada teman akhirnya terbeli juga, heheheh alhamdulillah" ungkapanya sambil senyum-senyum.
Aku pun hanya menganggukan kepala, dan  membalas cerita yang sama. "Aku dulu juga demikian ingin memilki motor sendiri dengan hasil keringat sendiri harus menabung dikit demi sedikit dan akhrinya terbeli juga" ungkap ku singkat.
Kemudian ku tanyakan kepada Daka, "Mana siput manis mu ko' gak kamu bawah kemari?"  tanya ku dengan tawa kecil.

Namun bukan balasan muka ceria yang ku dapat, justru raut kecewa yang keluar dari kerutan dahi dan pipinya, meski bibirnya tersenyum. " Hayo kemana siput kesayangan mu?" kejar tanya ku "katanya kemarin tidak mau dijual, tapi sekarang kok uda gak ada" imbuh ku, untuk membuka rahasia perasaan tersembunyi Daka.

Meski terlihat berat, akhirnya bibirnya berucap juga "Ah, kau memaksa ku, untuk curhat" ungkapnya, "hahahahha, gak papa biar ringan tu beban otak" ungkap ku biar ia bercerita.

"kemarin tak jual, bukanya terlalu butuh uang, karena ada keinginan untuk mendekati seseorang dengan keseriusan jadi tak jual, klu uang ku masih cukup untuk kebutuhan bulan ini," ungkapnya dengan nada malas.

"Bentar-bentar, dekatin seseorang maksudnya mau nembak cewek" sahutku dengan girang, dan tertawa kecil " hahahaha, kirain uda gak nafsu sama cewek, nafsunya sama cowok. Lanjut dulu ceritanya tar tak tanggapin," canda ku agar daka mau melanjutkan ceritanya.

"Iya kemarin aku ngerasa sempat dekat sama seseorang, tapi gak bakal tak tunjukin kamu siapa orangnya" ungkapnya dengan malu-malu. "hahahaha gak pa-pa gak disebutin tar juga tahu sendiri" sahut ku.

"Kita uda sering komunikasi, baik via sms, canting Fb dan WA, kadang juga telepon. dalam beberapa update status dan ungkapanya seakan orang yang dia maksud itu aku, namun ternyata bukan." 

" waduh kasihan, hahahhaha" ungkapku dengan bercanda. 
"Anjriit tunggu orang selesai cerita dulu baru tanggapin, dasar burung  nyahut aja" tegur Daka pada ku.
" Ya ane dengerin deh pek tuntas dan ampek lu puas, hehehe" bercanda sekaligus untuk menghiburnya. 

"Memang sebelumnya kita gak pernah bernubungan pasca ia uda lulus, namun entah kapan ia masuk dalam komen ku, tapi waktu pastinya kapan aq gak tahu. Nah mulai dari situ kita sering kontak-kontas komen-komen dan like status. Dalam beberapa statusnya juga kadang aku merasa itu bahwa yang ia maksud itu aku, tapi kadang juga bukan, kemarin ku coba untuk memastikan, ku tanyakan padanya ternyata ia sudah punya pacar, meski aku gak tahu siapa orangnya. Hati rasanya ndak karuan, padahal maksudku seumpama ia belum punya orang spesial atau pacar, mau ku tembak dia, meski bukan dengan ungkapan langsung (aku cinta kamu dsb) itu kan ungkapan anak jaman sekolah. Tapi bakal ku tanya dia apa mau tak belikan cincin tunangan meski perak?"

" widih suit banget kamu klu nembak cewek" sahut ku lagi. "Bentar belum selesai nich cerita dikit lagi"

"Nah dengan tujuan itu, kenapa si keong aku jual, ya paling tidak kalau mau serius dengan seseorang ada bukti seriusnya. Lagian itu juga motor kenangan, hasil gaji pertama, maunya ku buat kenangan yang lebih hebat lagi, tapi ya apa jadi...!!!" kemudian Daka sedikit terdiam "Udah, gini baru tanggepin" tutup Daka.

"Hehehe iya sory tadi kan terbawa arus certianya, Trus sekarang gimana?, galau?" tanyaku pada Daka.

"Ya gitulah, tapi masih biasa kok, gak terlalu dipikir tapi kepikiran. hahahhaha, tapi tar kalau jodoh kan juga dateng sendiri yang penting kan berusaha, masalah hasil, kan bukan kita yang menentukan" ungkapnya sambil menghibur diri.

"Bentar-bentar, berarti kan dia belum tahu kalau ente suka padanya, Dak?" tanyaku. "Belum" jawabnya polos.
"Ya jadi lelaki jangan pantang menyerah, masak belum tahu ditolak, gaknya uda nyerah, meski dia sudah punya cowok siapa tahu dia pilih ente, kan belum tentu. Baru kalau ente sudah mengunkapkan, dan dia bilang, saya menolakmu atau saya juga suka kamu itu baru jelas, kalau dia bilang saya sudah punya pacar, itu belum tentu dia gak suka sama ente. Yang punya suami saja bayak yang suka sama suami orang lain, apalagi yang cuma masih calon. Gak menuntut kemungkinan dia juga suka sama ente, seperti apa yang ente rasakan, sperti status-statusnya seperti yang ente ceritakan. hehehe sory jadi menggurui" celoteh ku untuk memberi semangat pada sahabat karib yang satu ini.

"Sory bukanya ane gak mau yang jelas-jelas seperti itu, tapi ya ini ane. Bukannya akan lebih jelas jika ane beliin cincin tanda jadi meski barang murah, daripada sekedar ungkapan cinta" sahutnya dengan penekanan intonasi sedikit maksa.

"Ya uda, sekarang gini saja, gimana dia tahu saja jika ente mau serius dengan simbol cincin tersebut, entah itu  selanjutnya dia milih orang lain juga gak masalah, yang penting perasaan dan ungkapan ente sudah tersampaikan, dari pada perasaan gak kesampaian tar jadi jerawatan...!!!" Nasehat kecilku kembali menghujani kegalaun Daka.

Tetapi aku tahu bagaimana Daka, ia bukan orang yang mudah untuk melakukan hal seperti ini, akan ada berjuta pertimbangan di otaknya, mulai dari takut menyakiti perasaan orang, jika memang orang yang dia sukai memang sudah menyukai orang lain, ia takut melukai hubungan orang lain yang sudah saling mencintai, karena baginya menyakiti orang, jauh lebih besar dosanya dari pada melanggar perintah Tuhannya.


Sekian dulu ceritanya, ini sedikit tambahan informasi untuk memperkuat istilah dan karakter.
Daka: Pemuda sederhana, bisa juga hidupnya masih belum mampan, meski sudah punya pekerjaan.
Siput: Motor Vespa tahun Tua
Aku: Penulis



Selasa, 24 Desember 2013

Daka, Rasa dalam Isyarat


Beberapa hari sebelumnya, Daka memang ada maksud hati untuk mengungkap apa yang dia rasakan selama ini, namun karena adanya  kepentingan yang tak terduga sehingga tak tersampaikan. Niatan mencari ketenagan hati tapi tak sampai, namun ada suatu isyarat yang menuntut untuk terus bertahan dan terus berjuang sampai semua maksud tersampaikan, hanya itu saja...!!!

Hati kecilnya berbisik, "Tapi etikad baik, belum tentu baik bagi orang yang kita tuju. Kadang kebaikan bagi kita justru menyakitkan bagi yang lain, jadi perlu adanya suatu garis keselarasan antara keduanya jika memang ingin mencari bahagia". Daka selalu mengdengarkan kata hatinya ketika suatu yang ingin ia gapai belum tersentuh keberhasilan.

Kepastian yang Daka harapkan menjadi ketenangan tersebut justru menjadi gelisah tersendiri, namun dalam dirinya "pikiran tetap harus menghibur hati yang gelisah, tubuh pun mendukung perintah logika untuk tetap berusaha". Baginya pikiran tak punya kegelisahan, pikiran hanya punya lelah, hati yang menyimpan gelisah.

Ya, sebuah kepastian untuk isyarat-isyarat yang selama ini sudah tertuang dalam kata dan tingkah. Tanda-tanda yang seakan bahwa "aku memang ada untuknya", dan demi sebuah kata bahagia, ketenangan hati, semangat tersendiri, juga tanda harapan akan keberadaan untuk bersama menuju jalan ibadah yang sempurna.

"Ah, semua masih tanda dan isyarat, bulum ada ungkapan kepastian, sekali lagi hanya tanda". Kesimpulan Daka atas semua hubungan tidak langsung yang ia lakukan.

Hari itu ternyata Daka mendapat kesempatan untuk menemukan jawaban atas semua isyarat tersebut. Ia  coba untuk menghubungi, dengan obrolan seperti biasanya. Tanpa ungkapan atau pertanyaan yang mempertanyakan kepastian tersebut, jawaban pun terungkap dalam beberapa kalimat isyarat pula.

Setalah obrolan yang penuh canda, justru ia merasa ada yang berbeda. "Ya, rasanya memang ada yang pergi padahal belum pernah kita miliki, rasanya ada yang hilang padahal belum datang"

Itu hanya sebuah rasa, itu hanya isyarat pula, atas kedaan.

Dalam diam hamba tersadar, usaha pasti ada gagalnya, tak semua keberhasilan diperoleh sempurna, tak semua yang kita harapkan akan terwujudkan, yang paling jelas dan pasti adalah proses dalam usaha tersebut, namun hasil belum bisa kita pastikan.

********______********

Sosial media hanyalah tepat untuk menaruh isyarat, tanda dan do'a, namun kenyataan tetaplah harus kita buktikan sendiri dengan tingkah.

"Yups, rasa bahagia, senyum-senyum sendiri, merasa ada yang memperhatikan, menemukan semangat dari seseorang". Semua memang sering dialami, Daka ketika ia bermain sosial media.

Daka sendiri memang orang yang cukup aktif di facebook, bisa dibilang hampir 24 jam akunya terus hidup meski orangnya sedang tidur. Facebookers yang satu ini seakan menaruh kehidupan nyatanya dalam maya, pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya pun dari dunia maya, hiburan dan curhatanya pun dalam tertuang dalam deretan statusnya, samar do'a-do'a pun tersisip. Mengelola banyak group dan fanspage untuk berbagi informasi dan mempermudah menyelesaikanya dalam tanggung jawab pada perusahaan.

Tak terkadang Daka punya kedekatan pada seseorang yang ada dijejaring sosial tersebut. Sebuah akun yang membut dirinya merasa berbeda, merasa jadi orang spesial, namun sekali lagi Daka memahaminya itu adalah bahasa isyarat yang tertuang dan butuh banyak penafsiran serta masih sangat butuh untuk dipastikan.

Padahal sebagai seorang facebookers, Daka pun sempat mengalami tiga kali salah memahami bahasa isyarat tersebut.

masih banyak yang kurang untuk dituangkan...!!!

Senin, 16 Desember 2013

Kenyamanan Ngantor

Tertalu banyak orang sekitar yang mengira aku sedang berhubungan spesial denganmu. Tak bisa lagi ku pungkiri kata mereka, telah dari beberapa bulan sebelumnya memang pikiran mereka demikian. Bahkan hal ini pernah ku ceritakan kepadamu. Kau sambut dengan tawa dan dan kalimat tanya "kok bisa, hahaha".

Orang sekelilingku mengamati dengan apa yang mereka mengerti, asumsi. Mereka nenilai dari tingkah yang ada di sosial media. Dari itu semua mereka simpulkan, meski kesimpulan mereka salah namun tetap ku biarkan, biarlah waktu yang membuktikan, meski aku sudah mendapatkan jawaban. "Aku sudah punya calon" kalimat terakhir yang selanjutnya ku menjauh dan tidak ada komunikasi lagi.

Setelah dua hari berikutnya aku pun mencoba untuk membiasakan diri menganggap sumua sudah berlalu, seperti perasaan ini sebelum menghampiri.
"Ku panggil kau kawan dan kita memang kawan" ungkap hati sadarku.

"Ya biasa" jawabmu  saat ku minta biasa dan tidak ada apa-apa.

Namun semua masih terasa beda, dari sebelum ku nyatakan maksud "aku ingin mengenalmu lebih dalam" pesan yang ku sampaikan melalui akun Facebook-mu.

Ku mencoba biasa memberi komentar dan menyukai semua status yang kau tulis, seperti halnya ketika kau mulai menyukai semua status fb yang kutulis.

Sempat muncul tanda dalam pikiranku,"kenapa engkau selalu menyukai apa yang kutuliskan meski kadang hal itu tidak masuk akal dan asal-asalan sebagai hiburan".

Entah dari mana munculnya perasaan, aku pun mencoba membalas dan mengklik tombol like yang disediakan facebook yang ada di statusmu.

Beberapa hari berjalan dan terus berjalan sampai pada hari itu. Pernah ku sampaikan kepadamu didingku penuh dengan statusmu, jawaban datar yang ku terima "semubnyikan saja semua", ungkapmu.

Dalam hati sudah terasa berbeda atas apa yang kau sampaikan itu. Aku masih biasa juga, kita juga tidak pernah ketemu meski bekerja dalam satu perusahaan. Kantor kita berbeda meski dalam daerah yang sama.

Namun ada rasa yang berbeda ketika kita ketemu. Perasaan kagum dan ingin tuangkan perhatian pun muncul.

Waktu itu ia ke tempat saya kerja meski sebenarnya tidak untuk menemuiku tapi untuk menemui seorang senior terkait urusan kantor. Ia meminta untuk membukakan pintu gerbang kantor karena menggunakan paswod yang tidak ia ketahui.

Melalui pesan singkat yang ia sampaikan untuk sebuah bantuan.

Ku iya kan saja ku pikir membantu orang adalah kwajiban, sekaligus ku ingin melihat wajah asli dari pada sebuah komunikasi yang ada dalam dunia maya.

Saat pertama ku lihat wajah itu memang terasa istimewa, terlihat ceria dan ingin sekali ku masukan keceriaan itu dalam pelukan hati.

Seperti biasa, meski dalam hati sudah muncul rasa. Ya ku anggap biasa. Beberapa teman menganggap ia seperti adikku, katanya mirip, "tadi adik pean ta?, kok mirip" ungkapnya saat ia sudah pergi.

Seorang teman yang lain juga menilai engkau cantik, "siapa tadi?, kok gak pernah kelihatan dia cukup cantik dan manis" ungkapnya.

"Hahaha itu tadi anak blok sebelah, masak pean gak tahu?" Jawab sekaligus tanyaku.

"Ya ndak pernah ku lihat wajahnya" jawab temanku.

Kembali pada status yang menggugah rasa suka ku padanya "cinta yang sederhana".

Ku sukai dan kutanggapi status itu dengan bercanda serperti ketika ngerjain beberapa status teman yang pamer kemesraan.

"Hahahhahaha, swiet swiet" tulisku dalam komentar.

Terasah sangat indah dan berbunga-bunga, bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata, begitu istimewa. Namun sayang asumsi dan kesimpulanku salah itu bukan untukku tapi untuk orang lain.

Apalagi kita sekontor, rasanya sungguh tidak nyaman bagiku, bahkan terasa banyak kesalah gara suatu ungkapan yang tidak banyak pertimbangan tersebut.

Pihak managemen kantor memutuskan untuk team dipindahkan ke kantor timur, tempat ia bekerja.

Dalam pikiranku "matih..!!!".  Tapi bagaimana lagi semua tetap harus dijalani dengan senang hati. Meski perlu adaptasi dan mencari  kenyamanan lingkungan, semua juga harus tetap ku lakukan untuk bertahan.

Ku anggap semua sudah selesai setelah ku dapatkan kepastian jawabanya. Dan biasa-biasa saja, dan yang tahu hanya kita dan Tuhan sang penguasa, ternyata tidak demikian.

Beberapa kata terdengar, ini yang mantan,...!! "Ha" keherananku muncul dasyat, dalam hati hanya bisa berkata, masih dalam menanyakan saja sudah demikian gimana kalau beneran pacaran, lebih mampus lagi aku berada disini, mati kutu kena kibul kerumunan ibu senior".

Mendengar kata itu langsung saja ku menghindar menuju meja kerja. Pikiran hanya bisa menggrutu "mampus-mampus, pertama pindah tempat kerja uda ada suasana tidak nyaman".

Meski demikian tetap ku harus gunakan logika dan realitas harus tetap aku jalani, bertahan untuk bekerja dan berpenghasilan, bukan lari dari kenyataan kemudian jadi kemalasan. Meski berat dan kadang muncul kemalasan, yang berimbas pada pekerjaan, banyak kesalahan.

Dalam satu minggu aku pun lebih banyak dia. Memendam ketidaknyamanan tersebut, ku kira sudah nyaman yang tahu hubunganku dengan hanya kita, ternyata salah.

Beberapa orang disekeliling juga tahu, justru mengganggapku mantanya, "sentak dalam dada, hah....",
Memang tidak begitu jelas, namun suara itu cukup jelas untuk kupahami, ketika ia berkerumun dengan rekan-rekanya dan membicarakan, "yang ini orangnya" celetuk salah seorang.

Tampa pikir panjang segera saja ku tinggalkan tempat tersebut dan pergi ke ruang kerja. "Ah tak kusangka sampai demikian" batinku menggerutu.

Kembali ku kemeja kerja tanpa kenyamanan, seakan semua konsentrasi hilang, jutru perasaan persalah yang muncul, "salah langsung tembak tanpa verifikasi". Namun ku sadari ini memang kesalahan tapi jangan sampai terulang lagi.

Sudah dua kali mengalamai kegagalan yang sama masak yang ketiga juga akan demikian, akan kuperdalam terlebih dahulu untuk memahami sebuah rasa dan mecari tahu terlebih daluhu sebelum eksekusi.

Pernah juga langsung tembak jawabanya juga sama "saya sudah punya tunanggan". Kalau nembak cewek sudah dapat jawaban demikian sudah pupus semua usaha, beda lagi kalau jawabannya cuma "aku sudah punya pacar," jawaban kayak gini masih bisa diperebutkan tinggal yang kuat yang menang hahhaha, jadi ngelantur.

Dalam satu minggu berlalu suasana lingkungan kerja yang baru belum kutemukan kenyamanan, benar-benar masih sangat membosankan. Apalagi kalau melihat dia, haduh sungguh tak nyaman, padahal hamba sudah sangat ingin menjadikan susana sangat biasa bercanda dan tertawa. Tapi entah apa yang tersembunyi dari wajah itu, seakan tunduk tak mampu  menatap ketika ku tujukan sorot mata kepadanya.


Hatiku cuma bisa bertanya-tanya dan tak mampu memastikan, takut jika ku pertanyakan malah dikira hamba masih mengejarnya. Padahal jawaban sudah sangat jelas dan sejelas-jelasnya.

Ku pepikir perlu strategi baru untuk  membuat nyaman dalam bekerja, seminggu sudah masak tidak bisa menaklukan lingkungan yang angkuh dan kaku ini.  Sudah ku atur rencana ketika berangkat untuk mengucapkan selamat pagi kepada semua  yang ku temui, tetepi entah mengapa ketika melihat wajah-wajah yang sibuk dengan pekerjaan masing-masih, bibir ini justru enggan untuk berucap.
"Selamat pagi tai kucing".

Kemudian ketika istirahat siang ku coba juga untuk berbaur dengan mereka tapi ya apa, sama saja tubuh masih kaku, untuk mengetuk kehidupan lingkungan yang kaku.

Besok harus tetap berusahan ...!!! robohkan lingkungan yang tak nyaman...!!! Anjing dengan semua perasaan sungkan dan feodal kerajaan...!!!

Bersmbung, sambung seminggu pertama dikantor timu

Kamis, 05 September 2013

Tanya Bunda, Apa Sudah Punya Pacar

Sebagai anak yang berusia remaja lanjut, memang menjadi kelebihan tersendiri bagi didink. Dengan sejuta kegiatan di kampus menjadi rutinatas harianya. Usia perkuliahan hampir selesai, di antara 21 tahunan.

Suatu saat dia pulang ke rumahnya di kampung, sebagai anak yang memiliki orang tua, khususnya ibu. Namun  biasanya didink cukup jarang untuk pulang, sebab kebutuhan hidupnya sudah dikirim melalui transfer. Selain itu biaya transport untuk pulang baginya cukup dibuat makan satu minggu di kota rantau, Malang.

Sebagai anak yang harus tunduk dalam perkataan dan perintah baik orang tua khususnya ibu, ia harus pulang, meski berbagai kesibukan harus ia tinggalkan. Ya, didink pulang karena disuruh ibunya sudah tiga bulan ia sama sekali tidak menjenguk rumah kelahiranya di kampung yang dikelilingi persawahan.

Seminggu sebelumnya ibunya menelpon menyuruhnya pulang, namun ada saja alasan yang didink keluarkan agar dirinya tidak menyegerakan pulang, namun alasan dia tidak penuh dengan kebohongan, justru penuh dengan rayuan.


"aah ibu, masak sudah kangen mendalam dengan anaknya? " ungkapnya dalam telepon.

"Meski sudah telefon gini masak masih juga kangen buk, kan anak pean disini sehat-sehat saja dan tetap bahagia". Sambil tertawa kecil  ia berbicara dengan ibunya.

"Kalau ibu sudah kangen berat anakmu pasti pulang kok, bunda sayang, tapi minggu depan, ya." rayunya.

Seorang bunda yang tidak pernah tahu apa yang dilakukan anaknya di kota seberang selama tiga tahun lebih,  mulai dari daftar perkuliahan sampai hampir selesai semester enam ibunya tidak pernah tahu apa yang dilakukan didink. Seperti apa kulaihnya bagus atau buruk, berapa IPK-nya, bergaul dengan siapa, tempat tinggalnya seperti apa. Sama sekali tidak pernah di ketahui ibunya, ibarat bumi melihat langit.


Kemudian pada hari minggu setelah ibunya telepon tersebut dia pulang, Waktu di rumah  sesampai di rumah bercengkrama dengan  ibunya diwaktu sengggang, sudah menjadi bagian dalam dari agenda pulang. Namun meski bercada gurau ibunya yang lebih banyak bercerita tentang bagaimana keadaan dirumah, sanak keluarga, sawah, dan tentang ayam tetangga juga diceritakan kepada didink. Ia sebagai anak hanya bisa mendengar dan sesekali ia membalas dengan senyuman dan jawaban singkat.

Namun suatu yang mengejutakan didink diselah- selah pertanyaan tersebut "dink apa kamu sudah punya pacar?" tanya bunda.

Didink yang terheran-heran dengan pertanyaan tersebut, sebab hal itu tidak pernah ia pikirkan namun menjadi pertanyaan langsung dari ibunya. Wajahnya sedikit kemerahan dan matanya memandang kosong, sedikit dia berfikir, "kenapa pertanyaan itu yang muncul, kok bukan tentang perkuliahanku!, semestinya yang ibu tanyakan itu kuliahku karena aka tidak pernah bercerita kepadanya" gerutu didink dalam hati.

Dalam sejenak ia berfikir, mencari alasan dan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, karena baginya pertanyaan ini bisa mengandu dua sisi yang berlawanan, ketika sudah maka asumsinya kuliah pacaran saja. Ketika dijawab belum, seperti anak yang tidak laku.


Dalam pertanyaan tersebut didink tidak menjawan ia dan tidak, namun ia menjawab, malah dengan pertanyaan, "Berapa ibu bisa memberikan uang saku sehingga aku bisa pacaran?" jawaban yang 100% persen berbanding terbalik, orang bertanya malah ia jawab dengan pertanyaan. Ibunya justru terdiam, namun dalam keyakinan didink ibunya pasti paham apa yang dipilih anaknya meski tanpa penjelasan.

Dengan pertanyaan tersebut  sudah menjelaskan apa yang dipilih didink...


Bersambung...



Catatan: belum di edit kebenaran kata
penjabaran kondisi perbandingan didink dan temanya belum
penjelasan tentang perkuliahanya belum

Selasa, 03 September 2013

Temanku yang Beda, Seorang Editor Media

Kembali menuliskan kebebasan, temanku yang sekarang menjadi seorang editor dulunya orang yang tak tahu apa-apa terkait jurnalistik. Sekang dia menjadi editor disalah satu media otomotif, meski waktu dia kuliah jurusannya pendidikan.

Kalau ditanya temanku yang satu ini kadang sulit untuk menceritakan, katanya "terlalu panjang untuk cerita menuju kesitu, bisa jadi novel" ungkapnya. Sambil senyum-senyum dia mengungkapkan hal tersebut dengan jemarinya yang masih menghimpit rokok.



"Ya, justru bagus itu menjadi novel, penginspirasi banyak orang, berbagi kemanfaatan atau pengalaman dan keilmuan yang kau miliki" celotehku sambil menasehati.

Seorang editor otomotif yang tidak pernah ku sangka sebelumnya, karena temanku yang akrab dipanggil didink ini dikenal seorang yang kritis terhadap pendidikan, sosial dan politik. Sampai beberapa kali bersamanya dalam satu mata kuliah dosen di bantai habis dalam argumen yang dia keluarkan.


Sebab ketika dalam ia berargumen tidak hanya leterleg dalam konteks pendidikan saja, dia mengaitkan pembahasan denga sosial, politik dan perkembangan kekinian. Wacana yang dia dapat dari koran yang setiap pagi biasa dibaca. Bahkan ketika dia bicara, saya yang menjadi teman dekatnya kurang mampu untuk memahami apa yang dia utarakan.

Meskipun demikian namun apa-apa yang dia utarakan seakan tidak sadar logika ini meng-iyakan, namun sayang setelah itu juga lupa. Maklum kapasitas kita berbeda, namun saya yakin dia punya kelebihan dan kekurangan.

Dan untuk sekarang mulai sedikit terungkap kelebihan dia, mampu dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Seperti halnya ketika dia menjadi seorang editor media otomotif, tanpa pengetahuan otomotif dan kemampuan menulisnya juga pas-pasan namun dia mampu menembus benteng perkembangan medai yang dalam pandangan umum bisa dikatakan sulit.

Kembali penasaran penulis kepada teman yang satu ini, dengan suasana santai menikmati hangatnya kopi yang baru tersaji, ku coba menyelah untuk bertanya kepadanya "bagaimana bisa kau masuk disitu?, padahal ku lihat dirimu dulu tidak demikian, sekarang berubah drastis, wacana dan bahasan yang kau utarakan" tanyaku sambil ku iringi dengan sedikit penjabaran akan rasa penasaran, wajah berharap jawaban pun saya pasang untuk mengorek jawaban.

Dengan antusias saya melihat wajah sumringahnya, menanti ungkapan dari bibirnya, sebagai pembasuh rasa haus penasaran "Semua ada proses dan waktunya sendiri-sendiri" ungkapnya dengan simpel. Ku pahami ketika dia menjawab "sebuah proses" membutuhkan waktu dan usaha untuk menggapainya dan penjabaran tersebut tidak hanya sekilas selesai dengan dua dan tiga paragraf saja.


Sepertinya ia juga masih enggan untuk diketahui teman-temanya sebuah proses apa yang dia lakukuan, seperti apa usaha yang telah terlaksana, tuntutan apa yang bisa membuat pikiranya berubah. Temanku dulu tidak seperti yang dulu ku kenal, yang ku kenal sekarang temanku seorang editor otomotif itu saja.



bersambung...

Senin, 02 September 2013

Temanku Jarang Mandi

Sebagian dari kita pasti pernah meraskan bagai mana ketika bagun tidur tidak menyentuh air sama sekali, kemudian langsung beraktifitas, berkumpul dengan orang-orang dilingkunganya dengan tetap percaya diri.

Perilaku yang seperti ini mayoritas dilakukan oleh mahasiswa, khususnya mereka yang mendapatkan lebel seorang aktifis. Namun kadang memang sebuah kondisi yang menuntut mereka melakukan hal ini. 

Jarang mandi sudah menjadi kebiasaan temanku yang memiliki nama didink ini, dari jaman sekolah sampai kuliah juga demikian. Untungnya dia tidak memiliki bau badan (BB) dan untuk BB memang dia juga tidak punya.


Kebiasaanya memang bisa dikatakan jorok bagi mereka yang tahu, karena dalam berangkat kuliah dia cukup gosok gigi dan cuci muka kemudian berangkat begitu saja, kadang bajunya juga tidak ganti yang dia pakai mulai dari tadi malam. Namun hal yang terhebat bagiku dia tidak keliahatan jorok, kucel atau lusuh, entah rahasia apa yang dia punya.

Wajahnya tetap kelihatan cerah bersinar, memang secara paras wajah dan warna kulit dia mendapat keberuntungan dilahirkan dengan kulit lebih putih sedikit dari sawo matang (istilah jawa), dan juga tidak terlalu putih seperti ras kulit Cina. 

Pernah tercetus dari mulutnya "dua minggu tidak mandi, rasanya pengen mandi nich, tar numpang di kontrakanmu mandi yach" ungkapnya sambil tanganya masih memegang secangkir kopi. Memang kita sedang menik kopi hitam yang sama-sama menjadi kesukaan di kantin kampus, setelah perkuliahan.

"Gila... " sepontanitas keluar dari mulutku yang tersumpal sebatang rokok. "wah-wah kasihan para cewek yang dekat dengan mu dink !!" imbuhku sambil sedikit mencerca. ia hanya bisa ungkapkan "santai bro hamba tetep wangi meski gak pakek parfum," sambil tertawa kecil seakan menghiburku dan menyamarkan sindiranku.

Namun setelah mengucapkan itu justru pikiranku tidak memandang temen disampingku ini jorok, sebab tempat duduk yang berjarak tidak sampai setengah meter, aku tidak mencium apa ada, bau tengik, kecut ataupun yang tidak sedap lainnya, justru keharuman kopi hitam yang tersaji didepan menusuk-nusuk hidung, menggoda bibir untuk segera melumat habis kenikmatannya.


Setelah berbincang panjang lebar kesana, kemari mengobrak abrik pemikiran, tentang perkuliahan yang barusan kita selesaikan bersama. Ku beranikan diri untuk bertanya kepada didink, "Engkau punya rahasia apa?". "Rahasia apaan" tukasnya. Perlahan ku ungkapkan "selama dua hari kamu tidak mandi namun tidak tampak sama sekali, kamu masih tetap terlihat fres meski cuma membasuh muka, itu yang sekedar ku ketahui, kenapa bisa demikian? sambung tanyaku padanya.

"he he, jangan berlebihan gitu bro" sambutnya dengan canda menangkap pertanyaanku yang dipenuhi keseriusan. "Hamba cuma melakukan kebiasaan bro", ungkapnya yang masih sulit ku pahami. "ya kebiasaan cuci muka gitu saja" tambahnya. 

"Masak cuma cuci muka?" kejar pertanyaan ku untuk mengungkap rahasia yang ia simpan. 
"ya kalau kita mau terlihat segar dan fresh meski tidak mandi cukup sering-sering cuci muka saja bro" ungkapnya dengan simpel.

Namun kemudian ia menambahkan "cuci muka dengan kesucian diri itu beda bro" ungkapnya.
Dari ini aku malah tidak paham apa yang menjadi pernyataanya, "tolong jelasin yang bisa aku mengerti dink..!!" tanyaku..
"gini bro, hamba sedikit pernah dengar dari temen yang pernah menjadi santri, mereka harus menjaga kesucian diri, salah satunya menjaga kesucian diri itu dengan menjaga wudhu', mereka itu jika wudhunya batal mereka langsung ke kamar mandi untuk berwudhu lagi, katanya itu untuk kesucian, tidak hanya terpaku ketika sholat saja melakukan wudhu, dan sedikit-sedikit hal seperti ini hamba tiru bro, makanya jangan heran  jika kamu sering melihat ku ke kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka, sebab dilingkungan perkuliahan seperti ini, terlalu sulit untuk menjaga yang namanya kesucian diri seperti ini. Dikit-dikit salaman sama cewek, khusunya kalau lagi pertama masuk kelas, pada ngajak kenalan dengan bersalaman, kalau gak gitu tidak sengaja kesentuh, ada yang colek dan sebagainya. Kadang ketika tidak mau bersalaman ketika kenalan dianggap sok suci, ya namanya juga usaha bro apalagi kalau hal seperti itu dianggap ibadah pasti jadi berat" jelas didink.

Setelah penjelasanya yang cukup panjang tersebut baru ku pahami, kalau didink memang lelaki yang luar biasa, dia punya cara tersendiri dalam membersikan diri, bukan penampilan luarnya yang ia bersikan, namun penampilan jiwa dan hatinya yang lebih ia jaga kebersihanya. 

Sampai sekarang kebiasaan tidak mandi tetap ia lakoni, temanku jarang mandi...

bersambung..

inspirasi ketika tadi pagi kekantor tidak cuci muka apalagi mandi... hehehe



Selasa, 27 Agustus 2013

Menafikan Wanita yang Suka

Entah ini pikiran dan asumsi ku sendiri, beberapa wantia serasa menaruh harapan pada diriku, dan ketika ku ketahui hal itu justru ku samarkan semua perasaanya.

Memang terkesan cukup disayangkan bagi seorang cowok banyak yang menyukai namun disia-siakan. Ini mungkin ungkapan yang tepat bagi seorang yang memiliki nama didink. Memang ia memiliki beberapa kelebihan, gaya bicara yang meyakinkan, tampang lumayan, pemikirannya aneh.

Tapi didink juga memiliki banyak kekurangan dalam kehidupanya, hatinya belum pernah tersentuh wanita spesial, ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, hidup bebas tanpa ada yang membatasi kebebasanya. Waktu lebih banyak untuk bergadang bersama cangkir-cangkir kopi, bahkan tiada hari yang tertinggal dan juga ditemani asap rokok.

Selain itu kekurangan ia jarang memperhatikan dirinya sendiri, apa yang ada dinikmati saja, tidak mandi menjadi hal biasa baginya. Apalagi perawatan tubuh, seperti parfum, pelembab dan sebagainya seakan tidak pernah menyentuh kulitnya. 

Ya dia lelaki apa adanya dan tidak mengadakan apa yang sekiranya ia tidak bisa. Mungkin dari pengungkapan apa adanya dirinya ini yang menjadikan beberapa hati wanita menjadi tersentuh, semua kekuarangan ia tunjukkan ketika didink merasa ada seorang cewek yang suka padanya. Kemudia perlahan-perlahan pergi dengan sendirinya, hilang sudah komunikasi.

Yang dilakukan didink untuk menyamarkan perasaan wanita yang suka padanya bukan tanpa alasan, selama masa kuliah ia memang berjanji pada dirinya, jangan spesialkan seseorang sebelum  memperoleh gelar sarjana. Dalam bahasa kasarnya tidak pacaran selama masih dibangku perkuliahan.

Dalam pikiranya yang berbeda, sebab dalam berangkat menuju kota orang ia ingin mengubah diri dari bekerja dengan tenaga menjadi bekerja dengan pikiran yang tidak mengeluarkan banyak tenaga. Sebab sebelumnya kecelakaan besar pernah menimpah didink tulang paha dan selangkanya putus. Kekuatan tubuhnya tidak seperti masa remajanya.


Remaja desa yang sudah biasa mengangkat beban puluhan kilogram, sebab kehidupan di desa memang lebih banyak mengeluarkan tenaga dari pada pikiran. Setelah kecelakaan tersebut ia sudah tidak mampu lagi mengangkat beban puluhan kilo tersebut untuk hidup di desa seperti teman sebayanya.

Kemudian pemikiran didink dalam memandang pacaran cukup berbeda dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Ia memandang pacaran bukan mencari kebahagiaan tapi justru mencari kesusahan. Seperti halnya temanya yang seperti tukang ojek pagi siang dan sore harus mengantar dan menjemput sang pacar.

Selain itu dalam pikiran didink jika pacaran mencari bahagia, dimana letak sukanya, dan dimana letak bahagianya. Ketika pacar dekat atau sekedar ngobrol dengan orang lain hati sudah merana. Kemudian pengeluaran pastinya juga lebih banyak untuk keluar kesana kemari.

"Ahh ini pikiran picikku" ungkap didink

Bersambung......

Minggu, 25 Agustus 2013

Mencabut Semua Beban Sang Bunda

Ketika kecil seorang itu bisa menjadi saudara, namun setelah dewasa, tua beranak pinak, bisa menjadi musuh utama. Semua hanya karena harta warisan atau karena harta lama yang tidak jelas hitungannya. 

Entah, belum ketemu sampai kerang apa, dan kenapa semua bisa kacau seperti ini, saudara satu rahim bisa menjadi seperti musuh utama dalam kehidupan. Beban yang lebih besar sebab hal seperti justru lebih berat dibanding memiliki hutang dengan orang lain.

Apa karena rasa serakah, atau memang keilmuan yang belum sampai kesitu. Resah yang mendalam, gelisah yang tiada-tara, khususnya bagi bunda yang menjadi bagian dari tiga bersaudara yang lagi sengketa.  

Sebagai seorang anak yang lebih tua dan dianggap dewasa, bisa menyelesaikan itu semua, namun sampai tulisan ini ditulis belum juga selesai, bahkan kejelasan saja tidak ada. Sebagai seorang anak yang ingin membahagiakan orang tua, semua beban penulis ambil, entah meski puluhan ataupun ratusan juta tubuh ini siap menanggung, meski sementara masih bisa mencukupi kebutuhan hidup tubuh yang kurus ini saja.

Tekad dan keyakinan sudah tiada peduli lagi apa yang akan terjadi nanti, inginkan segera selesaikan masalah ini. Minimal semua sudah jelas tidak ada beban persengketaan lagi, semua biar bisa kembali berjalan seperti tubuh ini waktu balita. 

Melihat kesedihan dan emosi bunda yang tiada bisa terkontrol, takutkan diri jika sampai menjadi keberlanjutan menggerus kesehatannya. Selain itu bakgroun keagamaan dan kerasnya hati belum bisa terobati hanya dengan sebuah kata "Anakmu yang akan menyelesaikan".

Sengaja kata itu terucap untuk segera membebani pundak ini dengan masalah orang tua, sebab sebelumnya diri ini hanyalah beban orang tua. Sebab bahkan sebuah bentuk bangga pun tak mampu diberikan.

Dari sini sebagai anak yang harus taat pada orang tua, "Ini adalah tanggung jawabku ini adalah masalahku, semua aku yang nanggung, jangan engkau pikirkan lagi masalah ini, anak yang siap untuk mengemban tugas ini"
Sebagai anak yang berharap ibunya tidak memikirkan banyak malah dan menyenangkan diri saja dari hasil keringat anaknya dengan beribadah kepada sang pencipta, untuk mendo'akan anak-anaknya mencapai kesuksesan dan keberhasilan sesuai dengan  yang engkau dambakan.  

Meski satu masalah yang menyangkut adik laki-lakiku belum sepenuhnya selesai, aku yang tanggung, dan sekarang pun kusiap untuk selesaikan..... bersambung...A1

Selasa, 13 Agustus 2013

Lebaran ke 4 Silaturrahim yang Menjadi Beban

Masalah keluarga memang tidak bisa disangka kapan datangnya, sebagaimana kedatangan beban yang datang di hari terakhir berada dirumah sebelum kembali menjalankan rutinitas di kota pelajar. Tepat hari ke 4  idul  fitri 2013 yang seharusnya menjadi hari membahagiakan atas kunjungan saudara dan kerabat, namun menjadi beban yang sangat berar bagi bunda tercinta.

Panman, adik ibu yang ku kenal kemurahan hatinya untuk membantu keluargaku sepeninggal ayah ketika diriku masih usia sekolah dasar dan adik-adiku masih balita. Ya, ia yang selalu mengirimkan uang kebutuhan keluarga kami sampai kakakku bisa kuliah di Universitas negeri terkemuka, UM. Namun pada waktu itu aku tidak mengerti apa-apa yang penting bisa sekolah dan membantu orang tua sebisanya.

Terkadang juga kenakalan mengihasi masa-masa itu, kenakalan yang masih wajar dalam pandangan anak sekarang, keluyuran malam hari, berenang disungai, mengambil hasil tamanan diladang orang (berbuatan terburuk setelah sadar ketika masuk panti asuhan).

Ketika ia dan anak istrinya datang kerumah, aku masih tertidur dikamar, kemudian terbangun atas keramain tersebut. Siang itu sekita pukul 10.30 Wib baru ku buka mata dan membangunkan diri untuk menemui mereka, sebab semalam sebelumnya bergadang di rumah sakit Al-Aziz karena saudara jauh ada yang dirawat. Setengah tersadar dan pusing dan berjalan ngontai kekamar mandi untuk membasuh muka, setelah setelah itu baru menemui mereka bersam ibu dan dua adikku.

Pada hari itu ia datang untuk bersilatur rahim dengan momen lebaran, namun ada juga maksud yang belum terselesaikan antara dia dan ibu. Masalah bertahun-tahun yang pernah memuncak pada 5 tahun lalu, sebelum diriku melakah kuliah. Antara paman, ibu, dan adik ibu, mereka tiga bersudara yang sampai hari ini belum akur.

Suasana untuk menjamu mereka juga kurang enak, karena beberapa kue lebaran sama sekali tidak disentuh bahkan minumpun tidak. Entah sebelumnya juga ada masalah apa lagi yang muncul karena sebelumnya mereka juga melakukan pembagian warisan kebun dari nenek. "diam ku dalam bingung, siapku dalam menghargai mereka sebagai orang tua'.

Entah mengapa begitu berat, menyelesaikan masalah bagia orang tua, saudara sendiri bisa menjadi musuh, semoga kelak diriku dan saudaraku tidak demikian. Untuk semua orang juga, semoga ini menjadi pelajaran meski ini adalah ujian dari sang maha pencipta alam, semoga segera selasai dan apa yang kulakukan aku dan keluarga ku menjadi amal ibadah yang diridhoi-Nya.

bersambung...



Rabu, 19 Juni 2013

Adiku Akan Nikah Terlebih Dahulu

Pernikahan bukan sekedar menyatukan diri kita dengan pasangan, pernikahan adalah penyatuhan dua keluarga yang berbeda. Ketika diri sudah meniatkan diri untuk melangkah menuju bejana terpisah dari sang ayah dan bunda, disitulah letak penentuan diri, mandiri seutuhnya.

Adik ku yang selama ini jauh di wilayah sebrang, sudah lima tahun kita tidak satu tempat tenyata dia lebih berani untuk menyegerahkan keputusan itu. Sejak bersama dalam satu naungan asrama dia masih pendiam dan lugu, menurut apa yang menjadi nasehat orang tua, menerima saran sang kakak. Namun perubahan luar biasa ketika dia mulai mencitai dan menyukai seorang yang ia yakini menjadi tulang rusuknya...!!

Ia lebih berani mengambil keputusan, untuk menyegerahkan menjalin hubungan keluarga, meski usianya tiga tahun dibawah kakaknya yang sampai hari ini belum mendapatkan pacar dan calon yang sesuai.

Tapi aku akui dia memang berani, di saat masih mengeyam pendidikan perkuliahan dan pesantren, dia maju untuk segera mempersunting anak orang. Bagaimana pun sebagai kakak akan tetap mendukung apa yang dilakukan sang adik selama itu masih dalam jalan kebaikan.

#----#
Curhatan ibu yang ku dengar melalui spiker telepon genggam, sempat menyengat hati, "Adikmu minta lamaran, ibu kesulitan biaya" ungkap ibu dengan nada bingung. Sambil menenangkan diri aku menjawab, "kronologinya gimana?" ibu lanjutkan ceritanya dari awa sampai akhir. Mulai dari tingkah adik yang sudah berani membawa pacarnya ke rumah, sampai pada permintaan calon mertua adikku yang minta segera melamar anaknya. Cukup panjang ku dengar.

Meski telinga sudah terasa panas, namun berbicara dengan orang yang telah melahirkan kita harus rela melakukan segalanya. Rasa telinga panas itu hanyalah karena sebuah emosi, emosi atas kurang mampunya diri untuk menerima yang terjadi. 

"Bunda adalah segalanya" ungkap hati yang paling dalam.

Sampai pada titik kesimpulan untuk meringankan beban ibu, "jalani saja masalah teknis nanti saya yang ngatur" ungkapku sebagai anak laki-laki yang sudah saatnya membalas peluk hangatnya dengan ungkapan yang melegahkan hatinya.

Setelah menutup telepon, pikiran mulai menyabang kemana-mana, mencari celah jalan dan mengumpulkan segala informasi agar semua bisa berjalan dengan lancar. Masih banyak yang belum bisa aku ungkapkan dengan tulisan ini........(PR)

Pikiranku kacau bukan karena adik telah mendahului untuk menikah, namun pikiranku kacau memikirkan bagaimana kebingunggan bunda.....

Maafkan anakmu yang satu ini belum bisa disampingmu untuk menyelesaikan semua. Anakmu di kota rantau untuk bekerja juga untuk kemandirian diri  dan belajar membalas kasih sayang keluarga.

"Pangestu ipun buk".. ungkap dalam hati, teriring do'a semoga semua dimudahkan dalam menjalani.. Amien..


Bersambung..

Minggu, 23 Desember 2012

Ku Bukan Lacur

Sejak saat ia ungkapkan rasa sayang, ku abdikan cinta ku padanya, semua yang ku punya, ku berikan segalanya, bahkan muatira yang hanya di punyai sekali saja. Perasaan benar-benar hanyut dalam keindahan kemesraan yang engkau ciptakan. Benar kata pepatah "ketika cinta dikumandangkan semua serasa hilang" Entah kemana pergi kesadaran diri, yang tersisa hanya imajenasi keindahan dan kebahagiaan.

Hari-hari kami jalani serasa tiada beban, penuh pengorbanan,  keceriaan, semua aturan serasa tiada, norma hukum, agama entah kemana, tak peduli tempat umum, atau dimana pun, kami berbagi kemesraan. Terlihat irih berpasang-pasang mata, sedikit curiga, atas ulah kami berdua. Wajah curiga itu masih terus memandang, sampai gandengan tangan terlepaskan.

Sampai saat yang tak terlupakan hingga sekarang, kami lakukan dosa terindah, surga dunia kata para pecinta, kami lakukan dengan tanpa sengaja, menjadi candu dalam keseharian, melupakan diri bahwa kami tiada ikatan pernikahan.

Memang aku sadari cowok ku lebih agresif, lebih menuntutku untuk selalu pasrah, menyerahkan jiwa dan segala yang ku punya. Sedikit ku peringatkan "jangan sekarang, kita melakukan" wajah kecewanya begitu tampak, 'nafsu' cintanya menjadi amarah kecewa.

Jika sudah demikian tak mampu lagi ku melihat ia kecewa, tak mampu ku sakiti hatinya, tak mampu jika ia akan pergi karena kecewa padaku. Hal yang paling ku takutkan dia pergi meninggalkan ku, meninggalkan kebahagiaan yang telah lama kita susun bersama.

Ku bujuk rayu wajah kecewa, dengan pelukan mesra dari belakang, "Jangan begitu yank" ucapku.
"Kita akan lakukan segalanya ketika ikatan sudah ada" imbuhku tepat dibelakang telinganya, sambil kedua tanganku memeluk melingkar diperutnya. Kemuadian ia membalikan tubuhnya dan memeluku balik, kami saling berpelukan, serasa hangat tubuh itu merayapi semua pori.

Ku resapi dekapan itu, ku rasakan cintanya, ku rasakan segalanya, dalam kenikmatan tanpa ku sadari bibirnya telah mencumbuhi leher kiriku, tak mampu lagi ku menolak, diri ku telah hanyut dalam ambisi asmara bercinta, justru ku balik menciuminya. Tanganya bergeser kebawah masuk dalam kemaluan, benar-benar tak ku sadari semua berlangsung begitu indah. Sepertiga malam yang kita selesaikan dalam percintaan.

---*---

Setelah kejadian malam itu sering kami lakukan hal serupa pada hari-hari berikutnya, sebgaimana orang telah memiliki ikatan nikah.

Sampai saat ku sadari bahwa telah dua bulan hal itu kami lakukan, sampai saat kecewa melanda dada ketika ku katakan padanya aku tak keluarkan darah. Tapi bukan bahagia yang ku dapatkan ketakutan dan ketidakterimaan, lelaki ku justru mencaciku "Kenapa itu terjadi" Hujatnya sambil kedua tangannya memegang kepala.

Tak lama setelah kejadian itu justru ia lari dariku, ia pergi entah kemana, menghilang tanpa ada yang tahu. Kesedihan makanan harianku, kekecewaan memenjarakan ku, serasa tiada kehidupan lagi bagiku.

Belum dapat ku berkesimpulan, jika aku telah mengandung anaknya, sampai kuberanikan diri untuk periksakan diri, ku pergi kerumah sakit dan ku coba periksakan. Proses itu pun ku jalani sampai selesai dan aku tetap seorang diri menanggung semua.

Kenyataan yang berbanding terbalik dari kesimpulan kosongku, keadaan yang cukup menjadikan tanda tanya.  Ternyata saat ku baca hasil pemeriksaan dari sang dokter....  "Negatif" ku baca sekali lagi "Negatif" ketiga kalinya ku minta dokter menjelaskan secara medis "sebenarnya apa yang terjadi pada saya dok?" "Benar saya tidak hamil" pertanyaan keheranan yang bercercaan.
"Tidak" jawab doter dengan santun.

"Kamu hanya mengalami keletihan" sehingga beberapa sel darah menggumpal tidak keluar pada bulan ini, tapi tenang entar saya kasih resep, untuk ditebus obatnya, haid kamu besok pasti akan lancar" penjelasan dokter dengan wajah teduhnya.

Sejak saat itu ku tak percaya lagi pada laki-laki, semua lelaki dalam penilaianku munafik di depanya saja, menawarkan keindahan untuk dapatkan kenikmatan, setelah semua ia dapatkan pergi entah kemana.

Begitu indah kemunafikan yang ia gambarkan, semua menjadi sesuatu yang tak pernah ku percaya. Laki-laki mengedepankan nafsunya, beratasnamakan cinta, ia akan merenggut keprawanan dan lari dari kenyataan. Pesanku "Pangan pernah lakukan sebelum ada ikatan penikahan"


By: cairudin

inspirasi dari cerita kawan yang belum ketahui wajahnya..


Rabu, 19 Desember 2012

Semangat Pagi "Desa"


Begitu semangat si embah...
pagi2 sebelum mentari terbagun sudah siapkan nasi...
"untuk para pekerja disawah" ktanya..

baru saja ku buka mata dan cuci muka ...
"sarapan cung" tawaran si embah
"mangke krien, tasek dereng sekeco maem, keenjiangan" jawabku ....

cukup luar biasa, kehidupan masyarakat desa, begitu semangat, melebihi mentari
kehidupan pekerja cukup bahagia....
sebentar berkeja, sudah dikirim makan, upah yang didapatkan juga cukup mensejahterakan...
sayang memang tidak dalam keseharian, demikian.

jauh dengan buruh kota berkerja pagi, bisa makan sianga, berangkat malam, pagi baru bisa makan, berangkan siang, malam baru bisa makan.

upah hanya bisa untuk bertahan, tak mampu menggapai kesejahteraan...
meski dalam keseharian, ada pekerjaan, itu juga melelahkan...

kota-desa, hampir sama, tinggal pilih mana yang kita suka...!!

Semua telah dikuasi oleh kaum serakah, pilih di kuduanya sama saja, kerja lebih dan lebur harus menjadi kehrusan yang tidak mungkin dihindarkan untuk memnuhi semua kebutuhan.

Sebagaimana semangat Sie Embah dalam  memperjuangkan hidupnya, bermodal lahan sawah dan ladang, bertahan sendirian, setelah si kakek meninggalkanya, beristirahat dalam takdir manusia yang semua pasti akan mengalami, "kematian".
dua Anaknya yang sudah berkeluarga dan mandiri, hanya mengunjungi ketika liburan tiba, maklum mereka sudah menjadi para pejabat pemerintah yang hanya memiliki kesempatan ketika liburan untuk melihat orang tua tercintanya.


Dalam Sandiwara pemikiran didink hanya bisa mengambil, pelajaran atas apa yang dilihat dan rasakan. Pertama: Mengambil semangat hidup si embah, dalam memnuhi apa yang heharusnya bukan tanggung jwabnya, meski itu dirinya sendiri.

 "anak-anaknyalah yang harus memanjakan beliau" tegur  didink dalam hati.

kedua: Sesama orang biasa dan susah, saling berbagi bahagia dalam kebersamaan, berbagi senyum dan rizki yang dimiliki, Menjujung tinggi para pekerja yang menjadi tumpuhan kehidupan.

"bos atau juragan, bukanlah Tuhan yang bisa berkehendak kepada para pekerjanya dengan sesukanya, memulyakan mereka merupakan tindakan manusia sebagai kholifah dinia" pesan didink untuk mengingatkan kesombonganya, yang sewaktu-waktu muncul, seperti rerumputan pada musim hujan.

Ketiga: Desa dan kota sama saja, dalam lingkup penguasa yang serakah yang akan jadikan kesengsaraan, kota dan desa saling keterkaitan antara kedunya.
Orang desa tidak harus berbondong-bondong kekota untuk mencari uang dan pekerjaan, desa penuh pekerjaan untuk pengembangan dan meningkatkan penghasilan.

"mungkin kita masih keterbatasan untuk melihat kemampuan diri, mengembangkan apa yang dimiliki, memberikan yang berarti untuk sekitar" dalam hati didink untuk mengingatkan langkah kakinya dalam menjalani kehidupan.

Semua memang dari dalam diri manusia masing-masing, diri yang merdeka bisa mengkondisikan alam sekitarnya, untuk kemanfatan yang berkelanjutan. Meski itu kota atau desa, semua tempat istemewa, bagian terkecil dalam alam raya.

Didink kembali mengarungi detik kehidupanya, melankah menuju pintu dan keluar menghirup udara segar, mesakan hangatnya mentari, menikmati setiap sudaut perjalanan, menuju ladang.

20 Desember 2012

Selasa, 18 Desember 2012

Petani Damai part 2

Memang ucapan beliau hanya sekilas namun penuh pesan kegelisahan, semua diluar banyangan kedamaian dan keindahan yang tampak. Sebagai seorang buruh tani hanya mampu memutar sendi sampai letih, orang lain yang merasakan hasil tetesan keringat.

"regine mes awis, hasil panenipun murah, mboten seimbang" penjelsan beliau

Masih banyak jelas beliau mengunakan bahasa jawa, sengaja tidak penulis paparkan terlalu banyak. intinya pak tani mengambarkan kehidupanya hanya berputar, seperti roda mesin, sedangkan hasilnya yang menikmati orang lain. Kerja kerasnya belum seimbang dengan penghasilan yang didapatkan. Untuk menambah penghasilan harus dengan memiliki binatang periaraan kayak: ayam, kambing atau sapi.

Paginya berkerja diladang dan sorenya harus mencari rumput, untuk makan ternak. Karena jika cuma bergantung pada hasil panen harus meninggu tiga sampai empat bulan, sedangkan kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi, belum kebutuhan mingguan dan bulanan. Ya, dari binatang periaraan ini disandarkan kebutuhan.

Sekilas dalam pikiran tercurah penafsiran dan kesimpulan, kehidupan pertanian yang seharusnya dimulyakan, hanya sekilas dibuat mainan, mereka yang tega (kaum serakah). Mereka terlihat berkerja diladang hanya sebagai hiburan dan rutinitas yang harus dijalani, agar masyarakat yang lainya bisa tetap makan, menstabilkan ekonomi negeri.Tapi tidak ada oenghargaan dari mereka yang setiap hari makan dari keringat para petani, justru kaum serakah memono poli pupuk dan hasil panen agar dapatkan laba sebanyak-banyaknya.

"Semoga tidak terjadi, maslahat lebih diutamakan" asumsi negatifku bergentayangan, andaikan para petani mogok tidak menanam padi, jagung, kedelai dan lainya, masyarakat akan makan apa, beruntung mereka tidak melakukan hal itu, meski kesadaran politiknya sudah sampai kesitu.

Bersambung..

Senin, 17 Desember 2012

Petani Dalam Gelisah yang Tersembunyi

Pagi yang indah, mentari yang mulai tebarkan semnyum pada umat manuisa mulai membukakan mata. Udara sejuk yang menerpa setiap pori tak mampu terlupa dalam dada. Embun yang belum berlari, sorotkan pantulan seperti kemerlip bintang.
Desa yang hijauh, bukit-bukit cincin desa membentengi sejahterah.

Para petani mulai berkerja, menuju sawah dan ladang untuk tanamanya, demi menghidupi keluarga dan sanak-saudara, demi keberlangsungan ekonomi Negeri. Semua mereka jalani dengan semangat, bermodal cangkul dan sabit, tenaga dan semangat sebagi pusat energi. Demi sebuh karya hasil panen yang melimpah.

Dari sudut atas, diri hanya bisa memangdang riang "sungguh luar biasa, alam mendidik mereka" gerutu dalam dada. Sudut mata ku biarkan berlari liar menangkap semua keindahan, pikiran hanya bisa mengimbagi dan menikmati, hati meresapi dengan syukur pada Illahi. Sepasang kaki membawa tubuh untuk terus mengikuti penasaran, mencapai titik penangkapan dalam kesempurnaan keindahan.

Memang saat itu jalan-jalan pagi, ketika bermain kerumah teman yang tinggal di pegunungan. Pagi setelahnya menginap, meski dalam semalam kedinginan, saat mentari menyapa, tak ingin lewatkan kesempatan. Menangkap kehangatan dengan berjalan-jalan ke ladang dan sawah di pinggir desa.

Kudapati senyum dan sapa para warga, rasa bahagia yang diungkapkan dengan sederhana, meski para semut setiap saat melakukanya, Ku temukan pemandangan itu disini. Tak hanya kesempurnaan alam, pekerti tingkah masyarkatnya juga menentukan keberlangsungan kelompok ini.

"badhe, pundi mas....?"
 sapa seorang warga yang bertepatan dijalan, dengan bahasa jawa yang sopan.

"mlampah-mlampah dateng saben"
jawabku dengan senyum dan sedikit terbata-bata, karena lama tidak menganal bahasa jawa yang lebih halus, hanya sekilas-sekilas teringat pelajaran muatan lokal ketika masih sekolah dasar.

"Monggo, menawi sareng, niki ngeh badhe ten saben" imbuh petani itu, dengan menawarkan diri untuk membonceng ku dengan sepeda buntut  dalam perjalanan.

Akhirnya kita juga berangkat bersama, dalam perjalanan sempat kita saling bertanya, lebih banyak saya yang mencerca pertanyaan, Pak tani itu menjawab dengan penuh nilai kehidupan dan kejujuran atas apa yang telah dirasakan.

"kadhose sampun badhe panen, wulan ngajeng pak...katah rizkine, manton niki?"  Aku bertanya dengan sedikit bentuk pernyataan, agar beliau mengungkapkan apa yang dirasakan.

"Amien, Enggih, awal wulan ngajeng pun panen, tapi sami mawon mas, nasib e tiang alit, panen kaleh biayae sami larange, petani alit kados kulu moten saget sogeh mas" jawab pak tani itu.

"Tapi sugeh, pahala pak" sahutku dengan segera dengan intonasi bahasa bercanda dan berhias tawa, mencoba menghibur, mengikis rasa kecewa"...

Beliau menggambarkan keadaan panen yang tidak seimbang dengan biaya produksi, hasil panen hanya bisa menutupi kebutuhan produksi tanam lagi, jika ada kebutuhan yang mendadak juga hutang.  


bersambung...