Malam mingguku masih sama, berfikir tentang negara yang kurang berguna
Malamku juga masih sama mengerjakan pikiran kesalahan-kesalah pemerintah
Aktifitasku masih sama menghujat mereka yang serakah
Memaki lebih dalam dari sekedar sakit hati
Mecelah lebih kejam dengan sejuta kecewa
Mau jadi apa Indonesiaku...???
Sabtu, 07 September 2013
Jumat, 06 September 2013
Maaf Ini Aku yang Mudah Bosan
Sekarang masih dalam masah sulitku, jangan engkau merayu dengan curhatanmu, aku paham harapan besar tersimpan dalam dan menjadi rahasiamu, memang sedikit aku mencuri dan beramsumsi dari tingkah dan gaya bicara yang tersaji.
Aku tak mau menyakiti orang yang menspesialkan ku lagi, tak berani ku ucap "aku menyukai" atau "aku mencintai", ku takut dirimu akan lebih sakit ketika tidak siap menerima keadaan, ku takut dirimu seperti dia yang sudah menikah, ku takut dirimu menjadi gelisah tanpa kepastian, karena aku masih takut pada kepastian komitmen.
Aku lelaki yang masih mudah mencintai dan bosan, ku takut hati tak mampu mengendali, dan ku pinang lagi hati yang lain.
Maaf, ketika aku tak mengatakan "aku suka atau cinta" meski pikiran itu kadang menghakimiku untuk lakukan itu, ku tak ingin terpaku dengan kata-kata itu, menjadi penjara kesempatan lain yang lebih menjamin kehidupanmu, ku ingin engkau bebas menerima siapa saja itu kemerdekaan mu dalam pilihan.
Maaf jika apa yang ku lakukan engkau artikan perhatian dan luapan perasaan, itu memang kewajibanku sebagai manusia, untuk membagi bahagia dan membahagiakan yang lainnya, aku tak mau engkau terpaku perhatian itu.
Aku tak mau menyakiti orang yang menspesialkan ku lagi, tak berani ku ucap "aku menyukai" atau "aku mencintai", ku takut dirimu akan lebih sakit ketika tidak siap menerima keadaan, ku takut dirimu seperti dia yang sudah menikah, ku takut dirimu menjadi gelisah tanpa kepastian, karena aku masih takut pada kepastian komitmen.
Aku lelaki yang masih mudah mencintai dan bosan, ku takut hati tak mampu mengendali, dan ku pinang lagi hati yang lain.
Maaf, ketika aku tak mengatakan "aku suka atau cinta" meski pikiran itu kadang menghakimiku untuk lakukan itu, ku tak ingin terpaku dengan kata-kata itu, menjadi penjara kesempatan lain yang lebih menjamin kehidupanmu, ku ingin engkau bebas menerima siapa saja itu kemerdekaan mu dalam pilihan.
Maaf jika apa yang ku lakukan engkau artikan perhatian dan luapan perasaan, itu memang kewajibanku sebagai manusia, untuk membagi bahagia dan membahagiakan yang lainnya, aku tak mau engkau terpaku perhatian itu.
Kamis, 05 September 2013
Tanya Bunda, Apa Sudah Punya Pacar
Sebagai anak yang berusia remaja lanjut, memang menjadi kelebihan tersendiri bagi didink. Dengan sejuta kegiatan di kampus menjadi rutinatas harianya. Usia perkuliahan hampir selesai, di antara 21 tahunan.
Suatu saat dia pulang ke rumahnya di kampung, sebagai anak yang memiliki orang tua, khususnya ibu. Namun biasanya didink cukup jarang untuk pulang, sebab kebutuhan hidupnya sudah dikirim melalui transfer. Selain itu biaya transport untuk pulang baginya cukup dibuat makan satu minggu di kota rantau, Malang.
Sebagai anak yang harus tunduk dalam perkataan dan perintah baik orang tua khususnya ibu, ia harus pulang, meski berbagai kesibukan harus ia tinggalkan. Ya, didink pulang karena disuruh ibunya sudah tiga bulan ia sama sekali tidak menjenguk rumah kelahiranya di kampung yang dikelilingi persawahan.
Seminggu sebelumnya ibunya menelpon menyuruhnya pulang, namun ada saja alasan yang didink keluarkan agar dirinya tidak menyegerakan pulang, namun alasan dia tidak penuh dengan kebohongan, justru penuh dengan rayuan.
"aah ibu, masak sudah kangen mendalam dengan anaknya? " ungkapnya dalam telepon.
"Meski sudah telefon gini masak masih juga kangen buk, kan anak pean disini sehat-sehat saja dan tetap bahagia". Sambil tertawa kecil ia berbicara dengan ibunya.
"Kalau ibu sudah kangen berat anakmu pasti pulang kok, bunda sayang, tapi minggu depan, ya." rayunya.
Seorang bunda yang tidak pernah tahu apa yang dilakukan anaknya di kota seberang selama tiga tahun lebih, mulai dari daftar perkuliahan sampai hampir selesai semester enam ibunya tidak pernah tahu apa yang dilakukan didink. Seperti apa kulaihnya bagus atau buruk, berapa IPK-nya, bergaul dengan siapa, tempat tinggalnya seperti apa. Sama sekali tidak pernah di ketahui ibunya, ibarat bumi melihat langit.
Kemudian pada hari minggu setelah ibunya telepon tersebut dia pulang, Waktu di rumah sesampai di rumah bercengkrama dengan ibunya diwaktu sengggang, sudah menjadi bagian dalam dari agenda pulang. Namun meski bercada gurau ibunya yang lebih banyak bercerita tentang bagaimana keadaan dirumah, sanak keluarga, sawah, dan tentang ayam tetangga juga diceritakan kepada didink. Ia sebagai anak hanya bisa mendengar dan sesekali ia membalas dengan senyuman dan jawaban singkat.
Namun suatu yang mengejutakan didink diselah- selah pertanyaan tersebut "dink apa kamu sudah punya pacar?" tanya bunda.
Didink yang terheran-heran dengan pertanyaan tersebut, sebab hal itu tidak pernah ia pikirkan namun menjadi pertanyaan langsung dari ibunya. Wajahnya sedikit kemerahan dan matanya memandang kosong, sedikit dia berfikir, "kenapa pertanyaan itu yang muncul, kok bukan tentang perkuliahanku!, semestinya yang ibu tanyakan itu kuliahku karena aka tidak pernah bercerita kepadanya" gerutu didink dalam hati.
Dalam sejenak ia berfikir, mencari alasan dan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, karena baginya pertanyaan ini bisa mengandu dua sisi yang berlawanan, ketika sudah maka asumsinya kuliah pacaran saja. Ketika dijawab belum, seperti anak yang tidak laku.
Dalam pertanyaan tersebut didink tidak menjawan ia dan tidak, namun ia menjawab, malah dengan pertanyaan, "Berapa ibu bisa memberikan uang saku sehingga aku bisa pacaran?" jawaban yang 100% persen berbanding terbalik, orang bertanya malah ia jawab dengan pertanyaan. Ibunya justru terdiam, namun dalam keyakinan didink ibunya pasti paham apa yang dipilih anaknya meski tanpa penjelasan.
Dengan pertanyaan tersebut sudah menjelaskan apa yang dipilih didink...
Bersambung...
Catatan: belum di edit kebenaran kata
penjabaran kondisi perbandingan didink dan temanya belum
penjelasan tentang perkuliahanya belum
Suatu saat dia pulang ke rumahnya di kampung, sebagai anak yang memiliki orang tua, khususnya ibu. Namun biasanya didink cukup jarang untuk pulang, sebab kebutuhan hidupnya sudah dikirim melalui transfer. Selain itu biaya transport untuk pulang baginya cukup dibuat makan satu minggu di kota rantau, Malang.
Sebagai anak yang harus tunduk dalam perkataan dan perintah baik orang tua khususnya ibu, ia harus pulang, meski berbagai kesibukan harus ia tinggalkan. Ya, didink pulang karena disuruh ibunya sudah tiga bulan ia sama sekali tidak menjenguk rumah kelahiranya di kampung yang dikelilingi persawahan.
Seminggu sebelumnya ibunya menelpon menyuruhnya pulang, namun ada saja alasan yang didink keluarkan agar dirinya tidak menyegerakan pulang, namun alasan dia tidak penuh dengan kebohongan, justru penuh dengan rayuan.
"aah ibu, masak sudah kangen mendalam dengan anaknya? " ungkapnya dalam telepon.
"Meski sudah telefon gini masak masih juga kangen buk, kan anak pean disini sehat-sehat saja dan tetap bahagia". Sambil tertawa kecil ia berbicara dengan ibunya.
"Kalau ibu sudah kangen berat anakmu pasti pulang kok, bunda sayang, tapi minggu depan, ya." rayunya.
Seorang bunda yang tidak pernah tahu apa yang dilakukan anaknya di kota seberang selama tiga tahun lebih, mulai dari daftar perkuliahan sampai hampir selesai semester enam ibunya tidak pernah tahu apa yang dilakukan didink. Seperti apa kulaihnya bagus atau buruk, berapa IPK-nya, bergaul dengan siapa, tempat tinggalnya seperti apa. Sama sekali tidak pernah di ketahui ibunya, ibarat bumi melihat langit.
Kemudian pada hari minggu setelah ibunya telepon tersebut dia pulang, Waktu di rumah sesampai di rumah bercengkrama dengan ibunya diwaktu sengggang, sudah menjadi bagian dalam dari agenda pulang. Namun meski bercada gurau ibunya yang lebih banyak bercerita tentang bagaimana keadaan dirumah, sanak keluarga, sawah, dan tentang ayam tetangga juga diceritakan kepada didink. Ia sebagai anak hanya bisa mendengar dan sesekali ia membalas dengan senyuman dan jawaban singkat.
Namun suatu yang mengejutakan didink diselah- selah pertanyaan tersebut "dink apa kamu sudah punya pacar?" tanya bunda.
Didink yang terheran-heran dengan pertanyaan tersebut, sebab hal itu tidak pernah ia pikirkan namun menjadi pertanyaan langsung dari ibunya. Wajahnya sedikit kemerahan dan matanya memandang kosong, sedikit dia berfikir, "kenapa pertanyaan itu yang muncul, kok bukan tentang perkuliahanku!, semestinya yang ibu tanyakan itu kuliahku karena aka tidak pernah bercerita kepadanya" gerutu didink dalam hati.
Dalam sejenak ia berfikir, mencari alasan dan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini, karena baginya pertanyaan ini bisa mengandu dua sisi yang berlawanan, ketika sudah maka asumsinya kuliah pacaran saja. Ketika dijawab belum, seperti anak yang tidak laku.
Dalam pertanyaan tersebut didink tidak menjawan ia dan tidak, namun ia menjawab, malah dengan pertanyaan, "Berapa ibu bisa memberikan uang saku sehingga aku bisa pacaran?" jawaban yang 100% persen berbanding terbalik, orang bertanya malah ia jawab dengan pertanyaan. Ibunya justru terdiam, namun dalam keyakinan didink ibunya pasti paham apa yang dipilih anaknya meski tanpa penjelasan.
Dengan pertanyaan tersebut sudah menjelaskan apa yang dipilih didink...
Bersambung...
Catatan: belum di edit kebenaran kata
penjabaran kondisi perbandingan didink dan temanya belum
penjelasan tentang perkuliahanya belum
Update Niat Sebelum Memulai Pekerjaan
Update Niat dulu sebelum memulai aktifitas...
Niat kerja untuk hiburan yang menyenangkan dengan online untuk berbagi kemanfaatan
Niat kerja untuk menyenangkan orang dan diri sendiri
Niat kerja untuk memenuhi kwajiban
Niat kerja untuk mencari pengalaman dan ilmu baru
Niat kerja untuk menyambung sillaturrohim dengan rekan-rekan di nyata dan maya
Niat kerja untuk menghasilakan karya tulisan
Niat kerja untuk berbagi informasi
Niat kerja untuk mencari penghasilan
Niat kerja untuk bisa menabung demi........???
Niat kerja sebagai ibadah dan pahalanya untuk kedua orang tua
Niat kerja menggapai ridho sang pencipta suasan pagi...
Selamat memulai pekerjaan dengan meminjam ceria mentari....
Selasa, 03 September 2013
Temanku yang Beda, Seorang Editor Media
Kembali menuliskan kebebasan, temanku yang sekarang menjadi seorang editor dulunya orang yang tak tahu apa-apa terkait jurnalistik. Sekang dia menjadi editor disalah satu media otomotif, meski waktu dia kuliah jurusannya pendidikan.
Kalau ditanya temanku yang satu ini kadang sulit untuk menceritakan, katanya "terlalu panjang untuk cerita menuju kesitu, bisa jadi novel" ungkapnya. Sambil senyum-senyum dia mengungkapkan hal tersebut dengan jemarinya yang masih menghimpit rokok.
"Ya, justru bagus itu menjadi novel, penginspirasi banyak orang, berbagi kemanfaatan atau pengalaman dan keilmuan yang kau miliki" celotehku sambil menasehati.
Seorang editor otomotif yang tidak pernah ku sangka sebelumnya, karena temanku yang akrab dipanggil didink ini dikenal seorang yang kritis terhadap pendidikan, sosial dan politik. Sampai beberapa kali bersamanya dalam satu mata kuliah dosen di bantai habis dalam argumen yang dia keluarkan.
Sebab ketika dalam ia berargumen tidak hanya leterleg dalam konteks pendidikan saja, dia mengaitkan pembahasan denga sosial, politik dan perkembangan kekinian. Wacana yang dia dapat dari koran yang setiap pagi biasa dibaca. Bahkan ketika dia bicara, saya yang menjadi teman dekatnya kurang mampu untuk memahami apa yang dia utarakan.
Meskipun demikian namun apa-apa yang dia utarakan seakan tidak sadar logika ini meng-iyakan, namun sayang setelah itu juga lupa. Maklum kapasitas kita berbeda, namun saya yakin dia punya kelebihan dan kekurangan.
Dan untuk sekarang mulai sedikit terungkap kelebihan dia, mampu dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Seperti halnya ketika dia menjadi seorang editor media otomotif, tanpa pengetahuan otomotif dan kemampuan menulisnya juga pas-pasan namun dia mampu menembus benteng perkembangan medai yang dalam pandangan umum bisa dikatakan sulit.
Kembali penasaran penulis kepada teman yang satu ini, dengan suasana santai menikmati hangatnya kopi yang baru tersaji, ku coba menyelah untuk bertanya kepadanya "bagaimana bisa kau masuk disitu?, padahal ku lihat dirimu dulu tidak demikian, sekarang berubah drastis, wacana dan bahasan yang kau utarakan" tanyaku sambil ku iringi dengan sedikit penjabaran akan rasa penasaran, wajah berharap jawaban pun saya pasang untuk mengorek jawaban.
Dengan antusias saya melihat wajah sumringahnya, menanti ungkapan dari bibirnya, sebagai pembasuh rasa haus penasaran "Semua ada proses dan waktunya sendiri-sendiri" ungkapnya dengan simpel. Ku pahami ketika dia menjawab "sebuah proses" membutuhkan waktu dan usaha untuk menggapainya dan penjabaran tersebut tidak hanya sekilas selesai dengan dua dan tiga paragraf saja.
Sepertinya ia juga masih enggan untuk diketahui teman-temanya sebuah proses apa yang dia lakukuan, seperti apa usaha yang telah terlaksana, tuntutan apa yang bisa membuat pikiranya berubah. Temanku dulu tidak seperti yang dulu ku kenal, yang ku kenal sekarang temanku seorang editor otomotif itu saja.
bersambung...
Kalau ditanya temanku yang satu ini kadang sulit untuk menceritakan, katanya "terlalu panjang untuk cerita menuju kesitu, bisa jadi novel" ungkapnya. Sambil senyum-senyum dia mengungkapkan hal tersebut dengan jemarinya yang masih menghimpit rokok.
"Ya, justru bagus itu menjadi novel, penginspirasi banyak orang, berbagi kemanfaatan atau pengalaman dan keilmuan yang kau miliki" celotehku sambil menasehati.
Seorang editor otomotif yang tidak pernah ku sangka sebelumnya, karena temanku yang akrab dipanggil didink ini dikenal seorang yang kritis terhadap pendidikan, sosial dan politik. Sampai beberapa kali bersamanya dalam satu mata kuliah dosen di bantai habis dalam argumen yang dia keluarkan.
Sebab ketika dalam ia berargumen tidak hanya leterleg dalam konteks pendidikan saja, dia mengaitkan pembahasan denga sosial, politik dan perkembangan kekinian. Wacana yang dia dapat dari koran yang setiap pagi biasa dibaca. Bahkan ketika dia bicara, saya yang menjadi teman dekatnya kurang mampu untuk memahami apa yang dia utarakan.
Meskipun demikian namun apa-apa yang dia utarakan seakan tidak sadar logika ini meng-iyakan, namun sayang setelah itu juga lupa. Maklum kapasitas kita berbeda, namun saya yakin dia punya kelebihan dan kekurangan.
Dan untuk sekarang mulai sedikit terungkap kelebihan dia, mampu dengan cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Seperti halnya ketika dia menjadi seorang editor media otomotif, tanpa pengetahuan otomotif dan kemampuan menulisnya juga pas-pasan namun dia mampu menembus benteng perkembangan medai yang dalam pandangan umum bisa dikatakan sulit.
Kembali penasaran penulis kepada teman yang satu ini, dengan suasana santai menikmati hangatnya kopi yang baru tersaji, ku coba menyelah untuk bertanya kepadanya "bagaimana bisa kau masuk disitu?, padahal ku lihat dirimu dulu tidak demikian, sekarang berubah drastis, wacana dan bahasan yang kau utarakan" tanyaku sambil ku iringi dengan sedikit penjabaran akan rasa penasaran, wajah berharap jawaban pun saya pasang untuk mengorek jawaban.
Dengan antusias saya melihat wajah sumringahnya, menanti ungkapan dari bibirnya, sebagai pembasuh rasa haus penasaran "Semua ada proses dan waktunya sendiri-sendiri" ungkapnya dengan simpel. Ku pahami ketika dia menjawab "sebuah proses" membutuhkan waktu dan usaha untuk menggapainya dan penjabaran tersebut tidak hanya sekilas selesai dengan dua dan tiga paragraf saja.
Sepertinya ia juga masih enggan untuk diketahui teman-temanya sebuah proses apa yang dia lakukuan, seperti apa usaha yang telah terlaksana, tuntutan apa yang bisa membuat pikiranya berubah. Temanku dulu tidak seperti yang dulu ku kenal, yang ku kenal sekarang temanku seorang editor otomotif itu saja.
bersambung...
Senin, 02 September 2013
Temanku Jarang Mandi
Sebagian dari kita pasti pernah meraskan bagai mana ketika bagun tidur tidak menyentuh air sama sekali, kemudian langsung beraktifitas, berkumpul dengan orang-orang dilingkunganya dengan tetap percaya diri.
Perilaku yang seperti ini mayoritas dilakukan oleh mahasiswa, khususnya mereka yang mendapatkan lebel seorang aktifis. Namun kadang memang sebuah kondisi yang menuntut mereka melakukan hal ini.
Perilaku yang seperti ini mayoritas dilakukan oleh mahasiswa, khususnya mereka yang mendapatkan lebel seorang aktifis. Namun kadang memang sebuah kondisi yang menuntut mereka melakukan hal ini.
Jarang mandi sudah menjadi kebiasaan temanku yang memiliki nama didink ini, dari jaman sekolah sampai kuliah juga demikian. Untungnya dia tidak memiliki bau badan (BB) dan untuk BB memang dia juga tidak punya.
Kebiasaanya memang bisa dikatakan jorok bagi mereka yang tahu, karena dalam berangkat kuliah dia cukup gosok gigi dan cuci muka kemudian berangkat begitu saja, kadang bajunya juga tidak ganti yang dia pakai mulai dari tadi malam. Namun hal yang terhebat bagiku dia tidak keliahatan jorok, kucel atau lusuh, entah rahasia apa yang dia punya.
Wajahnya tetap kelihatan cerah bersinar, memang secara paras wajah dan warna kulit dia mendapat keberuntungan dilahirkan dengan kulit lebih putih sedikit dari sawo matang (istilah jawa), dan juga tidak terlalu putih seperti ras kulit Cina.
Wajahnya tetap kelihatan cerah bersinar, memang secara paras wajah dan warna kulit dia mendapat keberuntungan dilahirkan dengan kulit lebih putih sedikit dari sawo matang (istilah jawa), dan juga tidak terlalu putih seperti ras kulit Cina.
Pernah tercetus dari mulutnya "dua minggu tidak mandi, rasanya pengen mandi nich, tar numpang di kontrakanmu mandi yach" ungkapnya sambil tanganya masih memegang secangkir kopi. Memang kita sedang menik kopi hitam yang sama-sama menjadi kesukaan di kantin kampus, setelah perkuliahan.
"Gila... " sepontanitas keluar dari mulutku yang tersumpal sebatang rokok. "wah-wah kasihan para cewek yang dekat dengan mu dink !!" imbuhku sambil sedikit mencerca. ia hanya bisa ungkapkan "santai bro hamba tetep wangi meski gak pakek parfum," sambil tertawa kecil seakan menghiburku dan menyamarkan sindiranku.
Namun setelah mengucapkan itu justru pikiranku tidak memandang temen disampingku ini jorok, sebab tempat duduk yang berjarak tidak sampai setengah meter, aku tidak mencium apa ada, bau tengik, kecut ataupun yang tidak sedap lainnya, justru keharuman kopi hitam yang tersaji didepan menusuk-nusuk hidung, menggoda bibir untuk segera melumat habis kenikmatannya.
Namun setelah mengucapkan itu justru pikiranku tidak memandang temen disampingku ini jorok, sebab tempat duduk yang berjarak tidak sampai setengah meter, aku tidak mencium apa ada, bau tengik, kecut ataupun yang tidak sedap lainnya, justru keharuman kopi hitam yang tersaji didepan menusuk-nusuk hidung, menggoda bibir untuk segera melumat habis kenikmatannya.
Setelah berbincang panjang lebar kesana, kemari mengobrak abrik pemikiran, tentang perkuliahan yang barusan kita selesaikan bersama. Ku beranikan diri untuk bertanya kepada didink, "Engkau punya rahasia apa?". "Rahasia apaan" tukasnya. Perlahan ku ungkapkan "selama dua hari kamu tidak mandi namun tidak tampak sama sekali, kamu masih tetap terlihat fres meski cuma membasuh muka, itu yang sekedar ku ketahui, kenapa bisa demikian? sambung tanyaku padanya.
"he he, jangan berlebihan gitu bro" sambutnya dengan canda menangkap pertanyaanku yang dipenuhi keseriusan. "Hamba cuma melakukan kebiasaan bro", ungkapnya yang masih sulit ku pahami. "ya kebiasaan cuci muka gitu saja" tambahnya.
"Masak cuma cuci muka?" kejar pertanyaan ku untuk mengungkap rahasia yang ia simpan.
"ya kalau kita mau terlihat segar dan fresh meski tidak mandi cukup sering-sering cuci muka saja bro" ungkapnya dengan simpel.
Namun kemudian ia menambahkan "cuci muka dengan kesucian diri itu beda bro" ungkapnya.
Namun kemudian ia menambahkan "cuci muka dengan kesucian diri itu beda bro" ungkapnya.
Dari ini aku malah tidak paham apa yang menjadi pernyataanya, "tolong jelasin yang bisa aku mengerti dink..!!" tanyaku..
"gini bro, hamba sedikit pernah dengar dari temen yang pernah menjadi santri, mereka harus menjaga kesucian diri, salah satunya menjaga kesucian diri itu dengan menjaga wudhu', mereka itu jika wudhunya batal mereka langsung ke kamar mandi untuk berwudhu lagi, katanya itu untuk kesucian, tidak hanya terpaku ketika sholat saja melakukan wudhu, dan sedikit-sedikit hal seperti ini hamba tiru bro, makanya jangan heran jika kamu sering melihat ku ke kamar mandi hanya untuk sekedar cuci muka, sebab dilingkungan perkuliahan seperti ini, terlalu sulit untuk menjaga yang namanya kesucian diri seperti ini. Dikit-dikit salaman sama cewek, khusunya kalau lagi pertama masuk kelas, pada ngajak kenalan dengan bersalaman, kalau gak gitu tidak sengaja kesentuh, ada yang colek dan sebagainya. Kadang ketika tidak mau bersalaman ketika kenalan dianggap sok suci, ya namanya juga usaha bro apalagi kalau hal seperti itu dianggap ibadah pasti jadi berat" jelas didink.
Setelah penjelasanya yang cukup panjang tersebut baru ku pahami, kalau didink memang lelaki yang luar biasa, dia punya cara tersendiri dalam membersikan diri, bukan penampilan luarnya yang ia bersikan, namun penampilan jiwa dan hatinya yang lebih ia jaga kebersihanya.
Sampai sekarang kebiasaan tidak mandi tetap ia lakoni, temanku jarang mandi...
bersambung..
inspirasi ketika tadi pagi kekantor tidak cuci muka apalagi mandi... hehehe
bersambung..
inspirasi ketika tadi pagi kekantor tidak cuci muka apalagi mandi... hehehe
Minggu, 01 September 2013
Lepaskan Jenuh
Dalam gelisah malam, setiap orang pasti akan merasakan, namun semua terserah kata hati dalam menyikapi. Tidak akan sulit untuk mewarnai hati akan menjadi bahagia, dengan sedikit tingkah berbeda, keluar dari lingkungan...
Selamat bersenang-senang dengan dunia baru...
Selamat bersenang-senang dengan dunia baru...
Langganan:
Postingan (Atom)






