Kamis, 23 Mei 2013

Menanti Logika Sejahtera

Memaknai kebangkitan Nasional bagi sebagian masyarakat, hanya sebuah peristiwa.
Tiada kenagan dan perubahan dalam kehidupan
Gilas penguasa serakah masih terus mendera
Roda ekonomi tak puas masih menggilas kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan

Gerimis peristiwa tak mampu basahi kehidupan hampa
Hujan derita tak puas membajiri benci

Tak mampu menyalahkan takdir
Lahir di tanah surga penguasa

Rasa tak terima, Tak puas akan semua tatanan
Ini bukan nasib, kenyataan yang diciptakan

Tumbuhan benci, dan keserahkahan damai sudah terpatri
Menanti pupuk subur kesadaran logika bahagia tanpa kuasa dan harta

23 mei 2013 (kantor KL I)

Senin, 20 Mei 2013

Kejenuhan Kehidupan


Apalagi yang akan kau cari dalam kejenuhan dunia ini, Wahai pemuda..!!
Meski genggaman dapat merangkul semua yang ada

Tangan kecil sebagai kekuasaan
Semua tetaplah hampa.....

Tanpa puas, tiada ujung selesai
Menjulur tinggi dalam ambisi..

Wahai pemuda apa yang masih kau lamuni
Inilah kehidupan, ini juga kenyataan
Semua tiada selesai, sebelum diri sendiri mengakhiri
Dan waktu yang tidak ikut menentukan dalam titik henti..!!


Sadari waktu itu dan persiapanmu  !!!

Sabtu, 18 Mei 2013

Bulat Pekerja

Kaum pekerja memang harus menerima kodrat keringatnya dihisap
Jika tidak Ia kan menjadi juragan baru pun sama

Bulat kehidupan para pekerja, berlomba-lomba mengejar pahala pujian
Sampai titik penghabisan juga demikian...!!



Kamis, 16 Mei 2013

Wisuda, Buat Apa?

Banyak yang menggap, Wisuda sarjan merupakan hal yang sangat sakral dan semua harus di ikuti dengan hitmad serta melibatkan orang tua. Melalu beberapa prosesi dan sumpah sarjana, mereka dinyatakan sebagai orang yang telah memiki tambahan tiga huruf dibelakang namanya, memang ada yang cuma dua huruf.

Sebuah prosesi yang melibatkan kedatangan orang tua dan menjadi kebanggan bagi mereka yang menemukanya. Tapi bagi "mahasiswa ini" semua itu hanya hal melelahkan, menghabiskan banyak biaya dan membuat keluarga yang datang terlantar sia-sia.


Teringat dengan penulis novel tanpa bangku sekolah yang memaparkan, kejenuhan, kebosanan, kesia-sian, dan kegelisahan dalam bangku sekolah formal. "buat apa sekolah hanya sekedar untuk mendapatkan selembar kertas Ijazah, kemudian kesana kemari mencari lowongan kerja, mendingan gunakan waktu sekolah untuk terus belajar dan menulis". Ini salah satu ungkapan yang penulis ingat saat membaca novel tersebut.

Kemudian ada satu kalimat yang belum terlupakan "Kalian lulus dari sekolah akan menenteng selembar kertas Ijazah, dan pada waktu itu Aku (penulis novel) akan membawa karya untuk kalian". Sebuah kalimat yang cukup mempengaruhi alam bawah sadar bahwa pendidikan itu penting.

Kalimat ini bagi pembaca bisa memiliki dua kemungkinan, malas untuk sekolah dan menyia-nyiakan waktu untuk terus belajar. Kemudian yang kedua pembaca bisa tertantang untuk terus belajar dan membuktikan dirinya juga mampu untuk menghasilkan sebuah karya.



Dari sini akhirnya muncul niatan penulis untuk membuat sebuah karya berbentuk buku, entah itu novel atau karya ilmiah yang lainnya, namun sayang semua belum terwujud. Kumpulan puisi yang sudah tersusun menjadi buku dan dikirim ke dua penerbit juga belum ada tanggapan. Kemudian novel dari kumpulan cerpen sudah tersusun menjadi beberapa halaman juga hilang karena lost partisi hardisk. Yang terakhir kumpulan tulisan analisis dan pengamatan pribadi yang kurang sepuluh hari ingin dicetak sebagai kenang-kenangan wisuda, memorinya kena viru dan tidak bisa dibuka, akhirnya file hilang.

Penulis memang belum mampu untuk menghasilkan sebuah buku yang bisa meminimalisir kecewa pada pendidikan formal "KAMPUS" namun semua memang sudah menjadi rantai yang rumit permasalahan komersialisasi pendidikan, oknum, budaya dan sebagainya.

Kecewa itu juga karena kampus belum mampu menunjukan mahasiswanya kepada dunia sejahtera dan mandiri sesuai dengan kurikulum yang telah diprogramkan. Dan pada intinya meski telah menjadi sarjana masih menjadi penggaguran.


bersambung

Selasa, 07 Mei 2013

Siapa yang Bertanggung Jawab Pada Para Sarjana

Sarjana diciptakan bukan untuk menjadi pekerja dengan upah murah atau pengangguran. Kami sudah menghabiskan banyak biaya untuk bisa mengenyam pendidikan dibangku Universitas, namun apa hasil semua, Haruskah kami menjadi para pekerja dengan gaji UMR bahkan dibawahnya, dengan puluhan lamaran yang tidak ada ujung jawaban.

Memang permasalahan bangsa kita cukup kompleks, tidak hanya para sarjana yang kebingungan dalam mencari pekerjaan yang sesuai denga bidang yang sudah di geluti. Tapi hal itu adalah masalah kami sekarang ini. Setelah Prosesi wisuda ini, harus kah kami mengemis kepada para perusahaan dan lembaga lain untuk diberikan pekerjaan. 

Ketika kami dianggap tidak berkualitas sehingga tidak mampu memperoleh pekerjaan yang layak, berarti dimana kualitas dan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan selama ini. Sehingga kami menjadi seperti ini. 

Jika kami menjadi pengganguran atau sampah intelektual siapa yang akan disalahkan?. Namun kami tidak akan menyalahkan siapapun, tapi kami menuntut kepada siapa saja yang bertanggung jawab menjadikan kami seperti ini. Mulai dari kampus sampai pejabat pemerintah yang menyelenggarakan sistem dan tatan bernegara. Jangan hanya menjual slogan kampus dengan mencetak generasi yang seperti ini dan demikian atau seperti itu. Tapi yang patut dipahami bersama sarjana yang mencetak adalah kampus dengan fasilitas pemerintah, dimana tanggung jawab kampus dan pemeritah setelah kami sampai disini??

Untuk itu kami menuntut kepada Birokrasi kampus dan pemrintah

1. Berikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan dengan gaji yang layak.
2. Ciptakan pendidikan yang berkualitas dan hapus segala bentuk komersialisasi pendidikan.
3. Hapus sistem kerja kontrak, dan berikan jaminan kesejahteraan kepada para buruh/pekerja

Untuk temen-temen sarjan kita bukan sampah, tapi mereka yang menjadikan kita seperti ini

Hidup Adalah Kerja

Semua memang bisa terencana ..
Semua memang bisa diusahakan..
Seberapa letak usaha, tiada bisa diukur sebuah hasil

Inilah putaran kehidupan..!!!

Namun hidup harus berisi kerja
Dalam tidur, inti tubuh pun masih harus bekerja

Ketika sadar menyapa kita pun harus mulai dengan kerja
Hidup adalah kerja

Mencapai apa dalam kerja, jangan pernah tanya
Karena waktu masih menjadi rahasia
Melakoni kehendak hati, menuju semesta...!!

Kepada semesta pengabdian diri


By: Cairudin

Selasa, 12 Februari 2013

Pilihan Hidup

Dalam Perjalan Hidup


Banyak kegelisahan yang akan kita hadapai, bayak pulan pilihan.
Demi sang peradapan harus tetap bertahan

Sebuah semangat bukan hanya dalam bentuk ucapan atau tulisan
Hakikat semangat adalah mengerjakan sesuatu sampai selesai

Namun semua tetaplah sebuah pilihan ..!!!